Translate

Rabu, 29 Mei 2013

PENGANTAR PENGEMBANGAN SILABUS

Team Teaching Physic 2008/2009

Pengertian Silabus 
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. 

Prinsip Pengembangan Silabus 
  1.  Ilmiah Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. 
  2. Relevan Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. 
  3. Sistematis Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. 
  4. Konsisten Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. 
  5. Memadai Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. 
  6. Aktual dan Kontekstual Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. 
  7. Fleksibel Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. 
  8. Menyeluruh Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). 
Unit Waktu Silabus 
  1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. 
  2. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok. 
  3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Bagi SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi. 
Pengembang Silabus Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan. 
  1. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah dan lingkungannya. 
  2. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah/madrasah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah tersebut.
  3. Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI, menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait. 
  4. Sekolah/Madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP/PKG setempat. 
  5. Dinas Pendidikan/Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. 
Langkah-langkah Pengembangan Silabus 
  1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI; b. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran; c. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.
  2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan: a. potensi peserta didik; b. relevansi dengan karakteristik daerah; c. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; d. kebermanfaatan bagi peserta didik; e. struktur keilmuan; f. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; g. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan h. alokasi waktu. 
  3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional. b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran. d. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi. 
  4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
  5. Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik. d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. 
  6. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. 
  7. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. 
Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pengembangan Silabus Fisika Penyusunan dan pengembangan contoh model silabus mata pelajaran fisika dilakukan oleh tim pengembang dan pembahas dengan mempertimbangkan prinsip pengembangan silabus, yaitu: ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, actual dan kontekstual, fleksibel, dan menyeluruh. 

Pengembangan silabus dilakukan dengan cara mengembangkan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar mengacu pada pada pencapaian kompetensi dasar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan sumber daya yang ada dan berpedoman pada standar isi yang ditetapkan pemerintah dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006. 
Indikator digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi yang memuat pengetahuan, sikap, maupun keterampilan sesuai dengan kompetensi dasar. Materi pembelajaran dipilih untuk setiap kompetensi dasar sebagai sarana untuk mencapai kompetensi, berdasarkan hasil kajian dari standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran fisika. 

Kegiatan pembelajaran dirancang dan dikembangkan berdasarkan karakteristik kompetensi dasar, standar kompetensi, potensi peserta didik dan daerah, serta lingkungan. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran mata pelajaran fisika, kegiatan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan keterampilan proses, meliputi eksplorasi (untuk memperoleh informasi, fakta), eksperimen, dan pemecahan masalah (untuk menguatkan pemahaman konsep dan prinsip). Setiap kegiatan pembelajaran bertujuan untuk mencapai kompetensi dasar yang dijabarkan dalam indikator dengan intensitas pencapaian kompetensi yang beragam. Kegiatan eksplorasi (informasi dan fakta) dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengkonstruksi pengetahuan sesuai tuntutan kompetensi dasar. Kegiatan eksperimen dilakukan untuk memperkuat kompetensi yang dicapai. Sedangkan kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan dalam diskusi kelas bertujuan untuk menguatkan kompetensi dalam penguasaan konsep maupun prinsip sesuai dengan kompetensi dasar. 

Kegiatan pembelajaran yang mencirikan potensi dan karakteristik daerah serta lingkungan tidak seluruhnya dapat diakomodasi pada tiap kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran seperti yang tertuang dalam contoh silabus mata pelajaran fisika bersifat fleksibel sehingga tidak dinyatakan dalam sejumlah indikator maupun alokasi waktu tertentu.. 

Guru mata pelajaran dapat membagi alokasi waktu untuk setiap kegiatan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki mengacu pada alokasi waktu dalam satu kompetensi dasar. Rincian kegiatan pembelajaran disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian setiap kompetensi dasar dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran maupun hasil akhir pembelajaran. 

Pemilihan alokasi waktu didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar dan ketersediaan alokasi waktu per semester sesuai dengan struktur kurikulum yang tertera dalam standar isi. Alokasi waktu per semester untuk mata pelajaran fisika kelas X (sepuluh) berjumlah 36 jam pelajaran yang diperoleh dari alokasi waktu 2 jam pelajaran per minggu dikalikan 18 minggu efektif dalam satu semester. Alokasi waktu per semester untuk mata pelajaran fisika kelas XI (sebelas) dan XII (duabelas) berjumlah 72 jam pelajaran yang diperoleh dari alokasi waktu 4 jam pelajaran per minggu dikalikan 18 minggu efektif dalam satu semester. 

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Bahan ajar disusun dan dikembangkan oleh guru sebagai acuan kegiatan peserta didik maupun materi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Penentuan bahan ajar didasarkan pada standar kompetensi, kompetensi dasar dan kegiatan pembelajaran. Pemilihan alat dan media untuk kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan untutan kompetensi, karakteristik satuan pendidikan, dan kebutuhan peserta didik. Prioritas pemilihan alat dan media dilakukan guna mendukung pencapaian kompetensi peserta didik secara optimal. 

Contoh Model Silabus 
Dalam menyusun silabus dapat menggunakan salah satu format yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. Pada dasarnya ada dua jenis, yaitu jenis kolom (format 1) dan jenis uraian (format 2). Dalam menyusun format urutan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator dan seterusnya dapat ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan, sejauh tidak mengurangi komponen-komponen dalam silabus.

MUARA SUGIHAN; SEPENGGAL CERITA ...!!!

SMAN 1 Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin
Inilah lokasi tempatku mengajar ... SMAN 1 Muara Sugihan salah satu sekolah di Kebupaten Banyuasin, yang lokasinya ada di Desa Cendana Jalur 14 dengan waktu tempuh 3,5 jam di atas speed boat hitungan mulai perjalanan dari dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang. Sekolah yang memiliki 11 rombongan belajar ini terletak di tengah-tengah sawah, jalan penghubung antara desa Cendana dengan desa blok H, masing-masing tempuh antara 2,5 km dan 3 km. 



Mess Guru

Buatku guru yang berasal dari Palembang untuk dapat menetap disana selama jadwal mengajar, disediakan mess guru. Mess yang dibangun sejak tahun 1989, bersamaan dengan pembangunan sekolah ini, sudah tampak begitu rapuh. Namun, semangat guru-guru disana tak serapuh bangunan itu ... "harapannya". 

Dalam setiap ruang itu telah banyak menceritakan kisah, entah itu suka, duka, ataupun bahkan mimpi, dan jeritan hati. Hati-hati yang dipisahkan dengan belahan hatinya, karena sebuah pilihan. Pilihan yang mengharuskan dan merelakan sebagian hati indah itu terbang menanti seiring deburan ombak yang dibawa kencang sang angin. Setiap ruang yang berisi tangisan dikala malam, tawa yang mengiringi hati kala rapuh, dan tatapan mata kosong penuh harap setibanya senja. 

Abi dan Ima di BKB
Inilah wajah penantian itu ... wajah suami dan anakku ketika melepas kepergianku, bersama sang waktu 4 malam 5 hari, demi satu kata "pengabdian". Wajah yang sama sejak 1 April 2009 hingga sekarang disetiap minggu siangnya saat mengantar keberangkatanku dari dermaga BKB. Wajah yang menyimpan sejuta harap ...! Berharap aku selamat, berharap aku bersabar, dan iapun belajar bersabar ... berharap aku kembali dengan suka cita di hari kamis pagi selanjutnya. Harapan yang tak dapat kubaca di wajah sikecil ... namun selalu setia melepas kepergianku dengan senyumannya. 

Hanya satu kata yang terus terngiang ditelingaku "kapan umi itu tidak ke jalur lagi!", aku tidak bisa menjawabnya. Ku ihklaskan kepada sang waktu ... walau aku tak pernah berhenti berusaha, walau gagal, gagal, dan gagal lagi, aku terus, terus, dan terus berikhtiar. Dalam tautan do'a penuh harap ku yakin waktunya kan tiba "Allah akan memberikan yang terbaik untukku". 


Wajah Ima melepas Ummi
Ah ... coba lihat kembali wajah kecil dengan ekspresinya ketika kucium ia dan berpermanitan pergi. Tanpa senyum lagi tak mau menatap wajahku "oh anakku, maafkan ummi, telah ummi toreh sebuah luka dihatimu". Begitupun suamiku ... tanpa kusadari tatapan nanarmu melepas speed boat yang membawaku membuatku sadar ... betapa kau mengkhawatirkanku. Seperti ucapanmu "andai kita boleh bertukar posisi, biarlah aku yang menjalani perjalananmu". Terima kasih abi ... lirihku. 
Wajah Abi Melepas Ummi


Menjelang magrib aku biasanya tiba di Muara Sugihan, pernah satu waktu sms tak hadir di handphone suamiku, cemas hatinya ... tak henti ia menelponku, namun tak ada jawaban dariku. Itulah kendala signal yang sering terjadi ... namun ternyata kecemasannya itu beralasan tepat, karena speed boat yang kutumpangi mengalami patah kipas, dan aku bersama yang lainnya terdampar disudut perairan kecamatan Muara Padang. Sehingga harus menunggu bala bantuan dari rekanan speed boat. Jadwal Isya' telah lama berlalu barulah aku akhirnya tiba juga dengan selamat di Muara Sugihan.

Cerita seperti ini sudah biasa buatku, pernah pula ketika melewati selat Bangka karena ada penumpang yang pulang kearah itu, ternyata ombak di selat Bangka mencapai 1,5 m sampai 2 m, sampai-sampai salah seorang ibu tak hentinya berucap "Allahu Akbar ..., ya Allah ..." sangking paniknya sang ibu. Jantungkupun berdegup dengan kencang ... sampai-samapai sang supirpun berujar "ibu tolong jangan panik, nanti saya jadi gugup nih". Oala ...

Sepeda Ontel
Nah itu dia sepeda setiaku, yang menemani hari-hariku disana, maklum aku kan tidak bisa bermotor, kalaupun berani hanya diseputaran komplek perumahanku di Palembang. Buatku ini harus dibiasakan ... menggoes sepeda itu atau berjalan kaki sejauh 2,5 km bahkan 3 km hanya demi membeli sebungkus mie, atau kebutuhan lainnya, serta memesan speed boat untuk pulang ke Palembang di rabu sore. Itulah jadwal tetapku. Pondokan itu tempatku serta teman-teman lainnya berkumpul disenja hari ... mulai dari menceritakan tingkah siswa, sampai berbagi cerita perjalanan di speed boat ketika kita tidak berangkat bareng. 

Hmm ... dari 14 guru tetap (PNS) termasuk Kepala Sekolah yang memiliki kehidupan sama sepertiku, 4 malam 5 hari, berangkat minggu siang dan kembali lagi kamis pagi keesokannya ada 3 guru. Mungkin dengan merekalah aku lebih merasa nyaman berbagi cerita ... karena memiliki kesamaan "rasa". Sisanya memilih tinggal dan membangun peradaban di sana. Jujur aku salut dengan pilihan teman-temanku yang hijrah beserta anak dan suaminya, bahkan sampai mengajak orang tua mereka tinggal di mess-mess sekolah yang sudah benar-benar rapuh. Kemudian berbagi ruang karena harus bersama-sama dalam satu atap ... Apapun pilihan itu memiliki konsekuensinya masing-masing, begitupun dengan pilihanku. 

1 April 2009 ... sekarang telah hampir 3 tahun aku menjalani ini, tak layak jika aku tak bersyukur kepada-Nya, atas segala kenikmatan yang diberikan-Nya kepadaku dan keluargaku. Hanya aku tidak mampu membohongi hatiku ... aku ingin hijrah, kembali bersama belahan hatiku yang tertinggal itu. Dalam tautan do'a dibalut rasa sabar ... dan penuh kegigihan aku terus berjuang meraih mimpi sederhanaku, dapat berkumpul seperti keluarga lainnya. Ada rasa dingin kala melihat sosok keluarga teman-temanku disore hari dipondokan itu berkumpul, ah ... andaikan akupun mampu bermanja!!! Inilah sepenggal ceritaku di Muara Sugihan entah sampai kapan aku menjalaninya ... semoga ada hati yang terketuk, bukan berharap kepada manusia. Namun dengan kelembutan tangan-Nya dapat menggetarkan hati para pemimpinku, untuk bisa berbagi rasa ... rasa yang tersimpan dihati ini tanpa mampu kusampaikan, bahwa akupun merindu!!!


Satu hal yang tak pernah kan terlupakan Muara Sugihan lah yang menjadi semangatku untuk menyelesaikan studi S2 ku di Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya (2008 - 2010). Kekuatan yang hadir begitu kuat membangkitkan alam bawah sadarku yang sempat tertidur ... perjuangan bolak-balik yang tidak bisa tergambarkan. Berkat cinta-Nya, berkat kasih-sayang-Nya dan dengan sentuhan-sentuhan-Nya yang menyadarkanku akan arti berserah pada-Nya, membuahkan goresan indah tak terkira ... Andai tanpa sentuhan-Nya, semua ini tidak mungkin kuraih. Terima kasih ya Allah ... terima kasih ya Rahman, terima kasih ya Rahim ... Izinkan hati ini terus bercinta dengan-Mu, bersama kekasih-kekasih duniaku.Aamiin

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PRAKTIKUM FISIKA BERBASIS LINGKUNGAN GUNA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DI SMA NEGERI 1 MUARA SUGIHAN KABUPATEN BANYUASIN

Rosdiana (email: ummi_dina.12897@yahoo.co.id)

ABSTRAK


Penelitian ini bertujuan menghasilkan media pembelajaran praktikum fisika berbasis lingkungan yang valid, praktis, dan efektif, guna peningkatan hasil belajar siswa di SMA Negeri 1 Muara Sugihan Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan, dengan subjek penelitian siswa kelas X.2. Serta di SMA Negeri 15 Palembang di kelas X.7 untuk menguji efektivitas media pembelajaran praktikum fisika berbasis lingkungan apakah dapat digunakan selain di tempat subjek penelitian.
Media pembelajaran praktikum fisika berbasis lingkungan berupa: 
  1. Materi Ajar 
  2. Lembar Kerja Praktikum Siswa (LKPS) 
  3. Alat Peraga
Dikembangkan melalui model Rowntree, dengan menggunakan evaluasi formatif Tessmer.
Prototype 1 dinyatakan sebagai desain yang sangat valid menurut expert review and one-to-one evaluation, dengan hasil expert review untuk materi ajar (4,75), LKPS (4,86), dan alat peraga (4,51), sedangkan one-to-one evaluation (4,80).

Prototype 2 sebagai desain yang praktis dan memiliki efek potensial terhadap hasil belajar, ini terlihat dari rata-rata aktivitas pembelajaran (76,25%), aktivitas praktikum (66,35%), keduanya aktif, sedangkan rata-rata participant’s reactions dan participant’s learning (4,20) sangat baik, hasil belajar siswa rata-rata (84,53) tinggi, di tahap small group.






Prototype 2 yang telah direvisi dinyatakan sebagai desain yang efektif dari rata-rata aktivitas pembelajaran (74,476%), aktivitas praktikum (79,12%), keduanya aktif, sedangkan rata-rata participant’s reactions and participant’s learning (4,075) baik, hasil belajar siswa berata-rata (76,65) tinggi, 
dengan rincian 7 siswa atau 20% sangat tinggi, 12 siswa atau 34,29% tinggi, 10 siswa atau 28,57% sedang, dan 6 siswa atau 17,14% yang rendah, sementara itu 0 siswa atau 0% sangat rendah. Hasil angket, tanggapan siswa sangat baik, (83,60%) terhadap media, dan (89,71%) terhadap proses, di tahap field test. 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran praktikum fisika berbasis lingkungan berupa materi ajar, Lembar Kerja Praktikum Siswa (LKPS), dan alat peraga yang peneliti kembangkan valid, praktis, dan efektif pada saat pembelajaran pokok bahasan alat-alat optik. kata kunci: pengembangan, media pembelajaran praktikum, berbasis lingkungan, materi ajar, Lembar Kerja Praktikum Siswa (LKPS), alat peraga, hasil belajar.

PERBANDINGAN PENDIDIKAN DI FINLANDIA

Pendahuluan 

Finlandia atau Republik Finlandia adalah sebuah negara Nordik yang terletak di Fennoscandian wilayah utara Eropa. Di sebelah barat berbatasan dengan Swedia, di sebelah timur berbatasan dengan Rusia, dan di sebelah utara berbatasan dengan Norwegia, sementara Estonianya terletak di bagian selatan Teluk Finlandia. Ibu kota Finlandia adalah Helsinki (Wikipedia,2009). 

Finlandia terkenal dengan pendidikan terbaik di dunia. Ini terbukti dari peringkat PISA (Program for International Student Assesment) pada tahun 2003 siswa Finlandia menduduki peringkat pertama dan meraih skor tertinggi di dunia secara konsisten. Tes yang diadakan oleh PISA menguji siswa yang berusia 15 tahunan di sekiatr 40 negara industri seluruh dunia, pengukuran tes dalam PISA yaitu keaksaraan dalam membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan.. 

Jika dibandingkan dengan Indonesia yang berada pada peringkat paling bawah (Prayudi,2008). Ini artinya negara finlandia merupakan negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia dengan sistem pendidikan yang baik pula. Sistem pendidikan di Finlandia adalah sebuah sistem egalitarian Nordik, dengan tidak ada uang untuk waktu-penuh siswa. Secara hukum semua siswa wajib belajar sembilan tahun dimulai pada usia tujuh tahun dan mereka mendapatkan makan secara gratis. Peraturan tersebut diberlakukan pada tingkat dasar dan menengah. Di bidang pendidikan pendidikan, Forum Ekonomi Dunia meletakkan kualitas Finlandia pada peringkat pertama di dan peringkat kedua dalam matematika dan ilmu pendidikan (Wikipedia,2009). 

Bagaimana negara Finlandia dapat menjadi negara dengan tingkat kualitas pendidikan terbaik di dunia? Oleh karena itu, pemakalah bermaksud membahas mengenai pendidikan di finlandia untuk mengetahui bagaimana negara Finlandia menyiapkan pendidikan bagi penduduknya dan mengetahui bagaimana struktur pendidikan Finlandia, mengetahui bagaimana kurikulum dan guru di Finlandia. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana negara Finlandia mampu mengiringi kemajuan dan perkembangan IPTEK saat era globalisasi ini dalam dunia ICT. Dan diharapkan dari penulisan makalah ini dapat menjadi inspriasi bagi para pembaca untuk meningkatkan kualitas pendidikan pendidikan di negara Indonesia yang tercinta ini. 

Struktur Pendidikan Finlandia 
Tujuan utama dari kebijakan pendidikan Finlandia adalah semua warga mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal menerima pendidikan, tanpa memperhitungkan usia, tempat tinggal, situasi keuangan, jenis kelamin atau orang tua. Pendidikan dianggap sebagai salah satu hak-hak dasar semua warga negara. 
  1. Pertama, ketentuan tentang pendidikan dasar menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan dasar secara gratis, yang juga merupakan ketentuan wajib belajar. 
  2. Kedua, pejabat publik juga berkewajiban untuk menjamin setiap orang berkesempatan sama dalam memperoleh pendidikan lainnya selain pendidikan dasar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan khusus, dan untuk mengembangkan diri agar terhindar dari kesulitan ekonomi. Pejabat publik wajib menyediakan untuk kebutuhan pendidikan di Finlandia (edu.fi,2009). 
Jenjang Pendidikan di Finlandia 
  1. Pra pendidikan dasar
  2. Pendidikan dasar dan menengah
  3. Tertiary pendidikan
  4. Pendidikan tinggi 
  5. Pendidikan dewasa. 
Pra Pendidikan Dasar  
Wajib belajar dimulai pada tahun ketika seorang anak menjadi tujuh tahun. Selama sebelum usia anak menginjak usia wajib belajar, anak dapat berpartisipasi dalam pendidikan anak usia dini. Pihak yang berwenang dapat memberikan pra-pendidikan dasar di sekolah, hari-pusat perawatan, dan perawatan keluarga sehari di rumah atau tempat lain yang sesuai. Partisipasi dalam pendidikan anak usia dini adalah sukarela tetapi di kota berkewajiban untuk memberikan pendidikan anak usia dini. Di Indonesia wajib belajar dimulai pada tahun ketika anak berusia enam tahun. Pra-pendidikan dasar atau dinamakan dengan pendidikan usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar (Suparyo,2005:77). 
 
Struktur Pendidikan Finlandia 
Pada tahun 2007, 99,2% anak umur 6-7 tahun telah terdaftar dalam pendidikan usia dini dan sekitar 70% dari mereka hadir pada hari perawatan. Tujuan pendidikan anak usia dini di Finlandia adalah agar anak yang belajar dapat mengembangkan keterampilan dan self-image positive, mengakui sisi dasar keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dari berbagai bidang pelajaran sesuai dengan umur dan kemampuan.
 
Pendidikan Dasar dan Menengah 
Sistem pendidikan di Finlandia berdasarkan wajib belajar sembilan tahun (Finlandia peruskoulu, Swedia grundskola, sekolah dasar), dengan kehadiran wajib. Dimulai pada usia tujuh dan berakhir pada usia 16 tahun. Meskipun secara hukum sekolah penuh komprehensif, namun secara de facto wajib belajar dibagi menjadi dua bagian, pendidikan dasar untunk usia 7-12 tahun dan sekolah menengah atas pada usia 13-15 tahun. Untuk siswa sekolah dasar dalam satu kelas ada guru yang mengajar untuk sebagian besar mata pelajaran di kelas yang sama. Untuk siswa kelas menengah ke atas pengajaran yang dilakukan oleh beberapa guru di kelas yang berbeda. Pendidikan dasar dan menengah biasanya berada pada gedung sekolah yang berbeda. Namun, saat ini beberapa di gedung yang sama, meskipun kebanyakan tidak. Setelah lulus dari sekolah komprehensif, ada pilihan antara sekolah menengah atas (lukio, gimnasium) dan sekolah kejuruan (ammatillinen oppilaitos, yrkesinstitut). 
 
Tingkat pendidikan menengah tidak diharuskan, tetapi banyak yang mayoritas hadir. Kedua pendidikan dasar dan menengah yang didanai oleh kotamadya, yang didukung oleh negara berdasarkan jumlah siswa di sekolah mereka. Siswa dalam pendidikan menengah komprehensif menikmati sejumlah hak sosial, yang paling penting di antaranya adalah sekolah dan kesehatan gratis setiap hari makan siang, yang seharusnya mencakup sekitar sepertiga dari kebutuhan gizi sehari-hari. Selain itu, siswa sekolah komprehensif berhak menerima buku-buku dan bahan-bahan gratis dan gratis transportasi perjalanan sekolah jika siswa mengalami kesulitan dalam perjalanan ke sekolah. 
 
Sekolah menengah atas bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa perguruan tinggi, sehingga semua materi yang diajarkan adalah "studi umum". Sekolah kejuruan bertujuan mengembangkan kompetensi dan tidak mengutamakan persiapan pendidikan tinggi, meskipun lulusan sekolah kejuruan secara resmi memenuhi syarat untuk memasuki pendidikan tinggi. 
 
Dengan demikian, tidak seperti Swedia, Finlandia memisahkan kejuruan dan program pendidikan menengah umum. Sekolah menengah atas, tidak seperti sekolah kejuruan, menyimpulkan dengan ujian nasional matrikulasi (ylioppilastutkinto, studentexamen). Lulus ujian de facto merupakan prasyarat untuk melanjutkan pendidikan. Sistem ini dirancang sehingga angka terendah sekitar 5% gagal dan 5% mendapatkan yang terbaik grade. 
 
Ujian memungkinkan ujian spesialisasi dalam salah satu ilmu alam atau ilmu sosial. Perguruan tinggi dapat menggunakan skor tes matrikulasi dalam ujian untuk menerima siswa. Ada program khusus di lembaga pendidikan kejuruan yang baik memerlukan ujian matrikulasi, atau memungkinkan siswa belajar untuk ujian matrikulasi bersama dengan pendidikan kejuruan (kaksoistutkinto, dubbelexamen). Waktunya bersamaan dengan waktu sekolah, biasanya memakan waktu empat tahun. 
 
Tertiary Pendidikan  
Ada dua di sektor pendidikan: universitas (yliopisto, universitet) dan politeknik (ammattikorkeakoulu, yrkeshögskola, atau disingkat dengan AMK/Yh). Ketika merekrut mahasiswa baru, ujian nasional matrikulasi dan ujian masuk akan digunakan sebagai kriteria seleksi siswa. Fokus universitas pada penelitian dan memberikan pendidikan yang lebih teoretis. Sedangkan Politeknik fokus pada keterampilan praktis dan jarang melakukan penelitian, tetapi apa yang mereka lakukan terlibat langsung dalam proyek-proyek pembangunan industri. Misalnya, dokter adalah lulusan universitas, sedangkan dasar perawat adalah lulusan sekolah teknik. (Namun, lanjutan gelar ilmu keperawatan ada di universitas). 
 
Di sekolah-sekolah kejuruan dan politeknik diatur oleh kota, atau dalam hal khusus, oleh badan swasta Sebagai pengecualian peraturan, kuliahnya polisi diatur oleh Kementerian negeri. Semua universitas Finlandia, di sisi lain, dimiliki oleh Negara. Lulusan Politeknik mendapat gelar bachelors dan dapat melanjutkan studi ke universitas berlaku untuk program gelar Master selama dua tahun pada umumnya. Tetapi lulusan sekolah teknik sering diharuskan mengambil studi satu tahum tambahan agar mereka sampai pada lulusan universitas. Proses Bologna Progresif telah menurunkan jumlah tambahan yang diperlukan studi dan dalam beberapa kasus tidak diperlukan studi tambahan. Lulusan Politeknik setelah menyelesaikan tiga tahun pengalaman kerja di bidang mereka, mereka juga memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar master politeknik-program (lulusan universitas yang berkualitas rendah juga, tetapi dengan tambahan studi) yang bekerja berorientas-nonakademik. Politeknik program gelar Master memerlukan waktu dua tahun dan dapat dilakukan sehubungan dengan pekerjaan tetap. Berbeda dengan bachelor, gelar master lulusan dari politeknik dianggap setara dengan akademis master lulusan dalam bidang terkait. Setelah master, sederajat lainnya (pemegang diploma dan Doktor) hanya tersedia di universitas. Gelar master politeknik tidak memenuhi syarat untuk para lulusan penerima studi pada tingkat doktor. Secara hukum masyarakat Finlandia wajib mengikuti wajib belajar pada sekolah dasar dan menengah namun hanya bersifat sukarela di universitas dan politeknik. Di universitas dan politeknik tidak dikenakan biaya namun ada rencana pemerintah mengenakan uang untuk mahasiswa di luar uni Eropa. Di perguruan tinggi, dalam keanggotaan siswa kesatuan adalah wajib. Siswa dari serikat yang mirip politeknik diakui dalam perundang-undangan, tetapi keanggotaan sukarela dan tidak termasuk mahasiswa Universitas khusus kesehatan. Siswa Finlandia berhak untuk mencabut status kemahasiswaannya jika ia merasa persistent kemajuan dalam studinya kurang. Beberapa universitas memberikan gelar profesional dalam bidang teknik dan medis. Mereka memiliki persyaratan tambahan selain hanya menyelesaikan studi, seperti demonstrasi kompetensi dalam praktek. 
 
Sebagai contoh, berikut ini: 
  • Lääketieteen lisensiaatti, obat licentiat, pemegang diploma of Medicine. A Bachelor of Medicine (lääketieteen kandidaatti, obat kandidat) yang dibolehkan untuk melakukan kerja klinis di bawah bimbingan para staf medis. Tidak ada gelar Master dan pemegang diploma degree tidak memerlukan penuh disertasi doktor. Sama dengan sebuah Kedokteran Dokter di AS rasa itu tidak disebut "dokter" tetapi pemegang diploma. Penelitian atau "profesor dari gelar" termasuk seluruh disertasi, disebut "Doctor of Medicine" (lääketieteen tohtori, obat doktorsexamen). 
  • Diplomi-insinööri, diplomingenjör, adalah enam tahun program 300 ECTS, yang sebanding dengan seorang Anglo Saxon-Master of Science dengan Sarjana dalam bidang yang sama. Namun, termasuk dalam hal ini adalah 30 ECTS "diploma proyek", yang merupakan program nyata tentang teknik proyek enam bulan hingga satu tahun. Penyelesaiannya mendemonstrasikan kompetensi profesional selain jumlah yang diperlukan pendidikan. Pemberitahuan: program ini, dalam praktiknya, tidak interoperate dengan politeknik insinööri (amk) (ingenjör (Yh)) program. Setelah gelar master, ada dua lebih pascasarjana sederajat-yang antara pasca sarjana, yang disebut pemegang diploma, dan Doktor (Doktor) derajat. Licenciate memiliki program yang sama jumlah teori pendidikan sebagai Dokter, namun promotor bekerja memiliki persyaratan yang lebih sedikit. Di sisi lain, persyaratan untuk disertasi doktor sedikit lebih tinggi dibandingkan di negara lain. Doktoral Finlandia yang paling khas adalah gelar Doctor of Philosophy (filosofian tohtori, filosofie doktorsexamen). Namun, perguruan tinggi teknologi penghargaan gelar Doctor of Science, tekniikan tohtori, teknologie doktorsexamen dan terdapat beberapa cabang-judul tertentu, misalnya, dalam lääketieteen tohtori obat-obatan, obat doktorsexamen, dalam seni taiteen tohtori, dan ilmu sosial valtiotieteen tohtori, politices doktorsexamen. 
Pendidikan Dewasa 
Menyelesaikan sekolah menengah kejuruan pada program dengan kelas penuh pada tiga tahun kurikulum formal menyediakan kualifikasi untuk melanjutkan studi lebih lanjut. Namun, mungkin diperlukan untuk membuktikan memperoleh pendidikan pasca-sekolah menengah sebelum masuk universitas, sebagai pintu masuk memerlukan ujian yang relatif tinggi tingkat pengetahuannya. Pasca pendidikan menengah diberikan oleh kota atau sekolah independen 'pusat-pusat pendidikan orang dewasa', yang dapat memberikan pendidikan kejuruan baik atau komprehensif atau mengajar di sekolah menengah tingkat atas. 
 
Hal ini dimungkinkan untuk memperoleh matrikulasi diploma, atau yang lebih komprehensif nilai sekolah, dalam program tersebut. Baru perdagangan juga dapat dipelajari oleh seorang dewasa di sebuah pusat pendidikan orang dewasa (aikuiskoulutuskeskus, vuxenutbildningscenter), misalnya, jika struktural perubahan ekonomi telah lama perdagangan berlebihan. Di perguruan tinggi, dengan "Universitas Terbuka" (Avoin yliopisto, öppet universitet) program memungkinkan orang tanpa status siswa untuk mendaftar di universitas masing-masing program studi. Tidak ada persyaratan, tetapi ada uang kuliah sederhana (misalnya, 60 euro per tentunya). Politeknik memiliki program serupa (Avoin ammattikorkeakoulu, öppen högskola). 
 
Pendidikan Tinggi Sistem Restrukturisasi 
Karena globalisasi dan meningkatnya kompetisi untuk kelompok usia muda yg berkurang, sistem restrukturisasi telah dianggil oleh Departemen Pendidikan. Sejak 2006 semua lembaga pendidikan tinggi mereka telah sharpening kelembagaan profil baru dan mengembangkan metode kerjasama. Jumlah total lembaga ini diharapkan akan turun signifikan dalam waktu 10-15 tahun. Proses di universitas ini dipimpin oleh University of Kuopio dan University of Joensuu, yang akan membentuk Universitas Finlandia Timur baru pada 2010. Di Helsinki, ada proses untuk menggabungkan tiga lokal universitas, yaitu Helsinki University of Technology, Helsinki School of Economics dan Universitas Seni dan Desain Helsinki, untuk Universitas Aalto baru, efektif pada tanggal 1 Agustus 2009. Ada juga beberapa politeknik mengumumkan merger (seperti Haaga dan Helia, yang digabungkan menjadi Haaga-Helia di 2007). 
 
Metode baru kerjasama seperti consortia dan federasi telah diperkenalkan di universitas (misalnya, Universitas Turku dan Turku School of Economics Konsorsium). Kemitraan antara perguruan tinggi dan politeknik juga berkembang (misalnya, University of Kuopio dan Savonia Universitas Ilmu Terapan membentuk Northern Savonia Pendidikan Tinggi Konsorsium. Secara umum, seperti sistem berikut erat mengubah pola didirikan di Eropa Tengah dan Amerika Serikat. 
 
Guru Pendidikan Dasar dan Menengah di Finlandia 
Semua guru di pendidikan dasar dan menengah atas pendidikan umum memiliki kualifikasi setingkat universitas/sederajat baik itu pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah/kejuruan, pendidikan tingkat tinggi. Adapun penjelasan masing-masingnya adalah sebagai berikut: 
  1. Guru di pendidikan anak usia dini Pengajaran dan bimbingan staf dalam pendidikan anak usia dini dan perawatan yang baik dari gelar Sarjana dari universitas atau sekolah teknik apa yang digunakan atau dikenal sebagai kualifikasi pasca-sekolah menengah kejuruan. Selain itu, mereka mungkin akan dibantu oleh anak-anak perawatan profesional lainnya yang relevan dengan kualifikasi kejuruan menengah atas. Pendidikan anak usia dini dapat juga diberikan oleh guru kelas. 
  2. Pendidikan dasar dan menengah atas pendidikan umum Guru di kelas enam pertama pendidikan dasar biasanya generalists (guru kelas), sedangkan orang-orang di kelas tiga dan terakhir di tingkat menengah atas tergantung spesialis (guru mata pelajaran). Guru kelas bergelar Master Pendidikan lulusan dari studi pedagogis yang telah menyelesaikan praktek mengajar. 
  3. Kejuruan dan pendidikan tinggi Tergantung pada lembaga pendidikan dan mata pelajaran, guru kejuruan dan politeknik diwajibkan untuk memiliki 1) yang sesuai lebih tinggi (atau pascasarjana) gelar akademik, 2) yang sesuai politeknik derajat; atau 3) yang tertinggi mungkin kualifikasi di bidang kejuruan mereka sendiri, setidaknya tiga tahun pengalaman kerja di lapangan, dan menyelesaikan studi pedagogis. Universitas guru pada umumnya diperlukan untuk memiliki doktor atau pasca sarjana.
  4. Guru memiliki otonomi pedagogis Pedagogis guru dianggap ahli, dan banyak yang dipercayakan dengan kemerdekaan di dalam kelas, dan juga memiliki kewenangan pengambilan keputusan mengenai kebijakan dan manajemen sekolah. Mereka sangat terlibat dalam rancangan lokal dalam pengembangan kurikulum dan bekerja. Selain itu, mereka hampir memiliki tanggung jawab eksklusif untuk memilih buku-buku pelajaran dan metode pengajaran. Pembangunan berkelanjutan mengenai guru profesional dianggap penting dan secara teratur (Oph.fi, 2006). 
Kunci Sukses Pendidikan di Finlandia Konstitusi Finlandia mencatat semua penduduk yang berhak mendapatkan kesempatan dalam pendidikan dasar dan kebudayaan. Setiap penduduk memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan, setelah itu pemerintah Finlandia juga mewajibkan penduduknya untuk mengembangkan diri. Dalam Perundang-undangan, wajib untuk memberikan hak dan pendidikan untuk bebas pra-dasar dan pendidikan dasar. Sebagian besar kualifikasi pendidikan lainnya adalah bebas biaya untuk para siswa, termasuk pendidikan pascasarjana di universitas. 
 
Kata kunci dalam kebijakan pendidikan Finlandia adalah kualitas, efisiensi, keadilan dan internasionalisasi. Pendidikan merupakan faktor untuk daya saing. Saat ini prioritas dalam pembangunan pendidikan adalah untuk meningkatkan tingkat pendidikan dan meningkatkan kompetensi di kalangan penduduk dan angkatan kerja, meningkatkan efisiensi sistem pendidikan, untuk mencegah pengecualian di antara anak-anak dan kaum muda, dewasa dan untuk memperbesar kesempatan belajar. Perhatian khusus juga diberikan kepada peningkatan kualitas dan dampaknya dalam pendidikan, pelatihan dan penelitian dan internasionalisasi. 
 
Latar belakang Finlandia sukses dalam membangun pendidikannya adalah sebagai berikut: 
  1. Kesempatan yang sama Sistem pendidikan Finlandia menawarkan kesempatan yang sama untuk semua penduduk, terlepas dari domisili, jenis kelamin, kelas ekonomi, situasi atau latar belakang budaya dan bahasa. Jaringan regional sekolah yang luas, dan tidak ada perbedaan gender dalam pelayanan khusus di sekolah. Pada tingkatan pendidikan dasar benar-benar gratis (termasuk pengajaran, materi sekolah, sekolah, makanan, pelayanan kesehatan, perawatan gigi, Komputer, kebutuhan khusus perbaikan pendidikan). 
  2. Kelengkapan pendidikan Meliputi pendidikan dasar sembilan tahun bagi semua orang yang berumur 7-16 tahun. Sekolah tidak memilih siswa tetapi setiap siswa bisa bebas memilih sekolahnya sendiri
  3. Kompetensi guru Pada semua tingkatan sekolah, guru harusber kualitas dan memiliki komitmen yang tinggi. Persyaratan untuk menjadi seorang guru di Finlandia adalah bergelar master, guru pendidikan dan praktek mengajar. Profesi guru sangat populer di Finlandia dan oleh karena itu ia dapat memilih perguruan tinggi yang paling berbakat dan memiliki motivasi. Guru bekerja secara independen dan menikmati otonomi penuh di kelas. 
  4. Siswa konseling dan pendidikan kebutuhan khusus Masing-masing untuk mendukung belajar dan kesejahteraan siswa yaitu akomodasi dan inti kurikulum nasional yang berisi pedoman untuk tujuan. Kebutuhan pendidikan khusus diintegrasikan ke dalam pendidikan reguler sejauh mungkin. Bimbingan konselor untuk mendukung siswa kelas atas dalam studi dan memilih pendidikan lanjutan. 
  5. Mendorong penilaian dan evaluasi Penilaian belajar dan evaluasi hasil pembelajaran dan pendidikan yang didorong dan didukung secara alami. Tujuannya adalah untuk menghasilkan informasi yang mendukung kedua sekolah dan untuk mengembangkan siswa. Pengujian Nasional, daftar peringkat sekolah dan inspeksi sistem tidak ada. 
  6. Pentingnya pendidikan di masyarakat Masyarakat Finlandia sangat menikmati pendidikan dan penduduknya dididik berdasarkan standar internasional. Pendidikan dihargai dan ada konsensus politik yang luas pada kebijakan pendidikan. 
  7. Fleksibel berdasarkan sistem pemberdayaan Sistem pendidikan dan administrasi yang fleksibel berdasarkan pokok dari "sentralistik steering-lokal pelaksanaan". Steering dilakukan melalui perundang-undangan dan norma-norma, kurikulum inti, dan informasi pemerintah berencana steering. Kota bertanggung jawab untuk penyediaan dan pelaksanaan pendidikan. Sekolah dan guru besar menikmati otonomi. 
  8. Kerjasama Interaksi dan kemitraan dibangun di semua tingkatan kegiatan. Ada kerjasama untuk pengembangan pendidikan antara berbagai tingkatan administrasi, antara sekolah dan antara pelaku sosial lainnya dan sekolah. Pendidikan bekerja sama dengan guru organisasi, asosiasi dan subyek pedagogis sekolah kepemimpinan organisasi. Hal ini dapat memberikan dukungan yang kuat untuk pengembangan. 
  9. Konsep Pembelajaran yang Berorientasi Siswa Aktif Organisasi sekolah dan pendidikan didasarkan pada konsep pembelajaran yang berfokus pada aktivitas siswa dan interaksi dengan guru, siswa dan lingkungan belajar (Edu.fi, 2008). 
 Sekolah dan Guru Finlandia dalam Menggunakan ICT Pada tahun 1955 pemerintah mengeluarkan rencana disebut Pendidikan, Pelatihan, dalam Masyarakat Informasi. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan daya saing nasional dan lapangan kerja dan mencari cara untuk menyediakan akses ke berbagai teknologi dan mengidentifikasi cara untuk memberikan ketrampilan dasar warga negara dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Departemen pendidikan didanai proyek ini yang dipantau dan dievaluasi oleh Kelompok Informasi Strategi departemen dan Finlandia Dana Nasional untuk Penelitian dan Pengembangan. Sebagian besar dana dalam proyek ini dialokasikan ke peralatan akuisisi dan membangun jaringan dalam segi pendidikan, universitas, perpustakaan dan arsip. 
 
Pada tahun 2004, Finlandia akan menjadi interaktif terkemuka pengetahuan masyarakat. Sukses untuk warga dalam kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan kemampuan intelektual secara menyeluruh dan memanfaatkan sumber-sumber informasi dan pelayanan pendidikan. Dalam Pendidikan Internasional Asosiasi SITES studi perbandingan teknologi dan pedagogi di 22 negara, di Finlandia peringkat 8 dalam hal komputer di sekolah. Tetapi para guru matematika dan ilmu pengetahuan dilaporkan menurunkan harga penggunaan ICT dalam 9 dari negara-negara lain termasuk di negeri Denmark dan Norwegia, namun juga Kanada, Hong Kong, Singapura, Italia dan Chile. Ada sedikit besar-besaran pengamatan atas mengenai penggunaan sumber daya digital. Memiliki dampak yang kuat kepada guru dalam menggunakan web yang diakses sebagai arsip materi kurikulum (cetak/ tradisional dan digital) : 90% dari guru sendiri laporan yang mereka menggunakan bahan-bahan sumber online. Tetapi tidak memberikan indikasi penggunaan teknologi digital dalam kelas pedagogi. 
 
Dalam sampel yang mewakili 8 tahun dari guru, kurang dari 30% dari guru yang melapor "sering" menggunakan teknologi digital di dalam kelas, dengan penggunaan teknologi oleh guru ilmu pengetahuan dan matematika memiliki tingkat terendah. Lebih jauh, ketika sebenarnya telah menggunakan sampel, kata, spreadsheet dan email yang menggunakan nilai tertinggi (95 %) dengan digitalmedia pembelajaran dan sumber daya alat-alat produksi untuk akuntansi + 70% digunakan. Simulasi dan permainan, interaktif putih dan papan perangkat komunikasi selular adalah yang paling sering digunakan sebagai media. Ada berbagai inovasi dan kualitas bahan yang tersedia untuk guru dan sekolah. 
 
Guru yang menggunakan teknologi digital untuk 6 komunikasi pribadi dan profesional, untuk mengakses materi pelajaran konvensional dan kurikulum, dan untuk keperluan administratif. Tetapi harian penggunaan digital dalam belajar oleh peserta didik dan guru di kelas dapat diperkirakan, atas dasar ikhtisar data laporan diri, terjadi tidak lebih dari sepertiga dari kelas sangat bervariasi terganggu oleh bidang dan tingkatan. Terdapat sedikit bukti bahwa sumber daya pembelajaran digital mempunyai dampak yang besar dalam sehari-hari pedagogi pengajaran/pembelajaran interaksi hubungan antara guru dan siswa. Lebih jauh, terdapat sedikit bukti bahwa ada sumber daya digital digantikan cetak sebagai buku yang dominan fokus dari kurikulum ke derajat signifikan. Tidak ada sistem data pada efek digitalisasi siswa belajar. Temuan ini telah ditriangulasikan pada data yang terbatas yang dipublikasikan sekolah Finlandia, dan dibenarkan oleh setiap pihak yang diwawancarai oleh tim review (Oecd, 2008). 
 
Pengembangan Kurikulum Untuk melihat proses pengembangan kurikulum di Finlandia, maka pemakalah mengutip dari pidato Irmeli Halinen seorang kepala Devisi Pendidikan Dean Pendidikan Nasional Finlandia. Beliau memulainya dari sejarah singkat kurikulum dan sistem kurikulum, kemudian melihat perubahan utama selama dekade terakhir dan akhirnya mencoba menjelaskan sistem dan konsep dari kurikulum Finlandia.
 
Untuk mengakhiri Beliau juga mengatakan beberapa kata tentang program pembangunan sekolah yang penting dalam pengembangan, sosialisasi dan pelaksanaan masalah-masalah yang disajikan dalam kurikulum inti nasional. 
  1. Latar Belakang Tiga tahun lalu dipindahkan dari Finlandia paralel, selektif dengan sistem pendidikan komprehensif, totally non selektif dalam sistem pendidikan dasar. Selama tiga puluh tahun ini kami telah meningkatkan hasil belajar kami tahun ke tahun dalam perbandingan internasional. Kurikulum dan cara kurikulum yang dibuat adalah salah satu faktor penting di belakang hasil yang baik. Hal ini juga menarik untuk melihat bahwa Finlandia telah melalui tahap cukup berbeda dalam pengembangan kurikulum berpikir. Periode pertama dimulai pada pertengahan 60's ketika Parlemen Finlandia membuat keputusan tentang reformasi dalam sistem pendidikan dasar, penciptaan sekolah yang komprehensif. Dalam 1970 pertama kurikulum inti nasional untuk sekolah yang komprehensif. Ini termasuk kuat dan progresif visi sama tentang peluang pendidikan dan memberi tepat pesanan dari tujuan pendidikan, isi, metode dan prosedur penilaian murid. Terpusat ini, perusahaan sangat ketat dan pembinaan yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan reformasi besar. Finlandia di Dewan Pendidikan Nasional bertanggung jawab untuk perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai kurikulum inti nasional. Tugas itu juga untuk mendukung kota dalam menerapkan reformasi dan menangani penyebaran ide-ide dalam kurikulum inti. Selama 1972-77 reformasi Sekolah Komprehensif yang dilakukan di seluruh negara. Sembilan tahun pendidikan dasar dibagi menjadi dasar yang disebut tahun dari kelas 1 sampai 6 dan seterusnya disebut sekunder tahun dari kelas 7 hingga 9. Tanggung jawab utama penyelenggaraan pendidikan yang diberikan terutama untuk kota berwenang. Finlandia telah membuat dasar untuk kota otonomi pendidikan. Pada mulanya sekolah lengkap termasuk juga kemampuan pengelompokan atau streaming dalam matematika dan bahasa. Mahasiswa yang mengambil terendah saja, yang merupakan salah satu ajaran paling tidak, tidak dapat melakukan dengan pendidikan umum setelah menyelesaikan studi pendidikan dasar. Pengelompokan kemampuan ini telah dihapuskan oleh kurikulum dan reformasi pada tahun 1985 untuk studi kelayakan itu akhirnya terbuka untuk semua orang. Pada saat yang sama kota diberi kesempatan lagi untuk menentukan cara untuk mengatur belajar-mengajar. Negara juga mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke kota untuk menjamin kualitas pendidikan di seluruh kelompok umur di seluruh negara. Pada awal tahun 1990 sangat besar perubahan yang dilakukan untuk mengurangi peranan pusat administrasi dan menyerahkan kekuasaan, untuk memperkuat keputusan kuasa kota dan khususnya kuasa sekolah. Perubahan ini juga didokumentasikan dalam kurikulum inti nasional. Pada tahun 1994 ia menjadi sangat tipis. Hanya sangat luas panduan diberikan secara nasional. Tahun 1970 telah diisi dengan beberapa 650 halaman rinci pesanan dalam inti kurikulum nasional, pada tahun 1994 hanya tentang pengelolaan untuk mengisi 100 halaman dengan norma dan rekomendasi yang cukup luas dan umum. Dan yang penting adalah setiap kota dan sekolah itu diharapkan dapat menyusun sendiri kota dan sekolah khusus kurikulum berdasarkan kurikulum nasional inti. Idenya adalah bahwa kebutuhan lokal dapat lebih baik akan dipertimbangkan, dan fitur khusus dari sekolah dan sekitarnya dapat dilakukan penggunaan dalam mengajar dan belajar. Pada saat yang sama sistem memeriksa buku oleh Dewan Pendidikan Nasional telah dihapuskan dan otonomi guru dalam memilih metode kerja mereka dan bahan-bahan dibebaskan. Cukup proses kerja baru diciptakan saat ini mengembangkan sistem kurikulum baru pada tahun sembilan puluhan. Bekerja menjadi interaktif dan koperatif. Proses ini disebut "the Aquarium proyek" karena kota dan sekolah-sekolah yang diundang untuk bekerja intensif dengan otoritas nasional dan proses kerja ini adalah terbuka untuk siapa saja yang tertarik. Reformasi adalah dengan cara yang dilakukan dalam akuarium besar sehingga setiap sekolah, setiap guru dan memang ada orang yang dalam masyarakat kita dapat melihat apa yang terjadi dan kemungkinan telah membuat komentar mengenai proses dan produk. Reformasi Kkrikulum terbaru dimulai pada tahun 2000, ini bersama-sama operasional, interaktif cara kerja yang sudah terbukti sendiri. Sekarang ingin mendapatkan tidak hanya kota dan sekolah, tetapi juga guru pelatih, peneliti, penerbit dan orang yang mewakili berbagai bidang ekonomi dan masyarakat kita untuk bekerja bersama kami. Kurikulum inti nasional baru telah bekerja dalam beberapa kelompok kerja yang mewakili semua sektor yang disebutkan di atas. Juga jaringan 500 sekolah dari hampir 200 kota berbeda dibentuk yang secara aktif membuat komentar pada semua konsep yang kurikulum inti yang baru. Mereka memberi masukan kritis dan luas tentang kekuatan dan kelemahan dari kurikulum inti dan juga mengenai kota dan sekolah berbasis pelaksanaan proses. Umpan balik ini sangat berharga pada seluruh proses dan terutama ketika terakhir merevisi pada akhir versi kurikulum inti yang baru pada tahun 2004. Ini masukan juga membantu Dewan Pendidikan Nasional untuk merencanakan dukungan, pembinaan dan pelatihan guru lebih diperlukan dalam pelaksanaan proses. Reformasi pada awal tahun sembilan puluhan sangat memperkuat peran serta kota dan sekolah. Tetapi setelah reformasi dimulai khawatir tentang tumbuh perbedaan antara kota dan sekolah-sekolah dan juga di kalangan siswa. PISA sebagai penelitian membuktikan maka pada tahun 2001 dan 2004, perbedaan di Finlandia sangat kecil jika dibandingkan internasional tetapi bagi pemerintah Finlandia, perbedaan yang bagaimanapun akan menjadi masalah. Jadi Finlandia mulai memperkuat legislatif nasional dan norma kurikuler lagi, bahkan untuk tujuan yang lebih baik kesetaraan. Undang-undang tentang pendidikan telah direformasi selama tahun 1998-2003. Pada tahun 2001 baru dan lebih tepat sasaran nasional untuk pendidikan dasar dan juga, pada saat yang sama, yang baru alokasi jam mengajar di berbagai mata pelajaran. Lagi waktu diberikan kepada ibu dan sastra, untuk matematika dan untuk studi sosial. Kesehatan pendidikan baru dimulai sebagai subjek. Atas dasar ini reformasi legislatif maka kurikulum inti nasional direformasi pada tahun 2004. Reformasi kali ini termasuk pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar dan menengah atas pendidikan umum. Baru kurikulum inti untuk pendidikan dasar memiliki sekitar 300 halaman.
  2. Perubahan Utama dalan Inti Kurikulum Nasional Selama tiga puluh tahun Finlandia telah bergeser dari sentralistik ke sistem desentralisasi dan kemudian sedikit kembali lagi ke arah pusat bimbingan dan dukungan. Tapi bagaimanapun, peran kota, sekolah dan guru telah berkembang dalam kurikulum dan juga dalam pengembangan seluruh sistem pendidikan. Masalah yang besar dalam pendidikan dasar telah meniadakan pembagian komprehensif menjadi sekolah dasar dan menengah dan untuk menekankan kesatuan dan koherensi dari sembilan tahun sekolah dan komprehensif juga koherensi dari pendidikan TK dan pendidikan dasar, yang kontinum antara kedua. Konsep pembelajaran ini telah berubah menekankan peran aktif mahasiswa. Belajar dianggap baik individu dan sosial agar proses interaktif kerjasama mendukung pembelajaran individu. Finlandia memahami belajar sebagai situational; lingkungan belajar yang penting. Ia tidak hanya di kelas atau di sekolah yang penting dalam belajar, tetapi seluruh desa dan semua daerah-daerah sekitarnya yang dapat digunakan sebagai lingkungan belajar. Sama pentingnya adalah kerja budaya sekolah. Harus terbuka, mendukung dan koperatif. Cross-kurikuler tema ditentukan dalam inti kurikulum nasional baru mengintegrasikan instruksi dan memerlukan kerjasama yang intensif antara guru. Keseimbangan antara prestasi akademik yang tinggi dan kesejahteraan siswa merupakan salah satu pertanyaan dasar. Pemerintah Finlandia ingin sekolah menjadi inspirasi dan akademis menuntut sementara pada saat yang sama yang aman, ramah lingkungan dan merawat belajar. Oleh karena itu dukungan dan bimbingan yang dibutuhkan oleh siswa baik dalam belajar serta dalam pengembangan pribadi dan pertumbuhan yang dianggap sangat penting.
  3. Kurikulum Sistem Kami hadir kurikulum sistem sangat kuat berdasarkan lima faktor 1. Manajemen oleh tujuan yang diberikan dalam undang-undang dan dalam inti kurikulum nasional 2. Kuat dari kota otonomi otoritas dalam menyediakan dan menyelenggarakan pendidikan 3. Fleksibel dan interaksi antara masyarakat di bidang pendidikan di tingkat nasional, kota dan tingkat sekolah 4. Guru dinilai ahli dalam pengembangan kurikulum di semua tingkatan 5. Kurikulum dipandang sebagai suatu proses lebih dari satu produk dan memiliki peran sentral dalam perbaikan sekolah Terdapat lima tingkatan dalam sistem kurikulum Finlandia. Kerangka kerja legislatif yang kembali ke tanggal 1998. Kerangka ini selesai dibangun pada 2001 oleh Pemerintah Keputusan mengenai tujuan pendidikan dan distribusi jam pelajaran. Atas dasar ini, Finlandia membangun kurikulum inti nasional untuk pendidikan dasar telah siap pada tahun 2004. Pada saat yang sangat kota dan sekolah menyelesaikan kurikulum. Perundang-undangan nasional dan kurikulum inti memiliki pengaruh tidak hanya secara langsung di kota atau kurikulum sekolah tetapi juga pada pelatihan guru (pra-layanan-layanan dan pelatihan, tanggung jawab yang berwenang di kota), dan bahan-bahan studi yang diterbitkan oleh penerbitan rumah pribadi. Semua ini bersama baik kurikulum, guru dan kemampuan belajar materi memiliki dampak apa yang terjadi di sekolah setiap hari, dalam belajar. Ketika sekolah kota dan perencanaan mereka sendiri kurikulum, baik sekolah atau kota tertentu, mereka diharapkan untuk melakukannya berdasarkan pada kurikulum nasional inti. Pada saat yang sama mereka harus mempertimbangkan rencana penting lainnya yaitu masyarakat untuk contoh di kota strategi untuk pembangunan yang berkelanjutan, keselamatan, kesejahteraan keluarga, kota-ICT strategi, strategi untuk pencegahan narkoba dll. Mereka harus hati-hati menjelaskan bagaimana pendidikan yang diselenggarakan di masyarakat dan di setiap sekolah. Jadi guru nasional yang didukung oleh kota dan pedoman. Namun mereka memiliki banyak kebebasan untuk memutuskan tentang pekerjaan mereka sendiri. 
  4. Isi Kurikulum Finlandia Kurikulum inti nasional yang baru telah dikonfirmasi oleh Dewan Pendidikan Nasional Finlandia pada Januari 2004. Ide besar yang telah membuat lebih baik dan lebih solid tanah ke kota bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan pendidikan. Dengan cara ini kami mencoba untuk mengambil hati lebih baik dari kesempatan yang sama dan kualitas pendidikan tinggi di seluruh negara. Mereka tidak mempunyai sistem inspeksi selama ujian nasional pendidikan dasar dilaksanakan. Mereka ingin memperkuat budaya kepercayaan dan kesetaraan, Mereka percaya bahwa orang-orang melakukan pekerjaan dengan baik dan untuk itu mereka membutuhkan dukungan. Inti kurikulum nasional tidak hanya mencakup tujuan utama dan isi pengajaran dalam berbagai mata pelajaran, tetapi juga menjelaskan nilai-nilai umum, misi dan struktur pendidikan, konsep belajar dan tujuan untuk mengembangkan lingkungan belajar, sekolah dan bekerja pendekatan budaya. It mendefinisikan lintas kurikuler tema, tujuan dan struktur umum yang mendukung perbaikan berarti mengajar, murid kesejahteraan, murid konseling, klub kegiatan dan hubungan rumah-sekolah. Ini mendefinisikan tujuan dan prosedur dalam pendidikan kebutuhan khusus, dan tujuan utama dalam prosedur penilaian dan penjelasan sasian kinerja yang baik dan kriteria penilaian akhir untuk mata pelajaran yang berbeda. Ia menyatakan cara mengatur instruksi dari berbagai kelompok budaya dan bahasa. Dan ia juga mewajibkan kota dan sekolah untuk bekerja sama dengan otoritas kesehatan dan sosial terutama dalam hal kesejahteraan murid. Kami juga dapat melihat struktur kota atau kurikulum sekolah. Beberapa elemen-elemen kurikulum yang pusat dan umum bagi semua orang-bukan hanya guru-bekerja di sebuah sekolah, dan mereka semua mempengaruhi elemen lainnya. Terutama yang menarik adalah nilai, budaya sekolah dan lingkungan belajar, konsep belajar dan bekerja pendekatan. Sambil membahas elemen-elemen ini, staf sekolah harus articulate mereka pengetahuan dan sikap profesional dan berkomitmen untuk umum tujuan dan prosedur. Mereka juga harus menemukan cara untuk mendapatkan siswa, orang tua dan mitra lainnya dari sekolah untuk berpartisipasi dalam diskusi ini dan bagaimana cara bekerja sama dengan sekolah lain dan aktor masyarakat. Atau mari kita melihat tujuh wajib tema lintas-kurikuler. Tujuan dari tema ini adalah untuk membimbing siswa dalam meneliti fenomena penting dari berbagai sudut pandang yang berbeda berdasarkan bidang ilmu. Tidak ada satu sekolah di masyarakat dapat dibiarkan keluar saat pelaksanaan tema ini dibahas dan direncanakan. Juga bila tujuan untuk murid perilaku atau tujuan untuk berbagai mata pelajaran sekolah akan memutuskan di sekolah, guru harus berpikir sendiri tentang sikap dan tingkah laku, mereka idea sopan perilaku manusia dan kewarganegaraan, kebutuhan masyarakat sekarang serta masa depan, dan sebagainya. Apa bisa lebih baik untuk pengembangan profesional? Untuk kepala sekolah, kurikulum sekolah dan kurikulum proses perencanaan adalah alat yang sangat baik dalam pedagogis kepemimpinan. 
  5. Topik Perbaikan sekolah di Finlandia Selain itu kami juga bekerja kurikulum sekolah lainnya perlu perbaikan dan program-program untuk guru pelatihan lanjutan. Kami perlu mereka karena beberapa alasan  Untuk mendukung kota di kurikulum sekolah dan bekerja  Untuk mendukung pengembangan guru keahlian baru (misalnya keterampilan-ICT)  Untuk memperdalam dan mengembangkan beberapa bidang spesifik kurikulum (misalnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan kewarganegaraan, murid konseling, pendidikan kebutuhan khusus) Banyak program-program pembangunan sekolah yang dikoordinasikan oleh Dewan Pendidikan Nasional. Kota dan sekolah-sekolah yang diundang untuk berpartisipasi pada sukarela. Selama ini program-program mereka yang didukung jaringan ke satu sama lain, untuk berbagi informasi dan untuk saling belajar dari pengalaman dan untuk menghubungkan peningkatan kerja untuk pengembangan kurikulum mereka. Peningkatan program-program ini juga mempengaruhi perkembangan inti kurikulum nasional. Kesimpulan Finlandia negara yang terletak di benua Eropa memiliki peringkat terbaik di dunia dalam pendidikan menurut tes PISA. Setiap masyarakat Finlandia memiliki hak belajar yang sama. Finlandia menjunjung dalam kebijakan pendidikannya berdasarkan kualitas, efisiensi, keadilan dan internasionalisasi. Faktor yang mendukung suksesnya pendidikan Finlandia adalah: kesempatan yang sama, kelengkapan pendidikan, kompetensi guru, adanya konseling bagi siswa dan pendidikan kebutuhan khusus, adanyan penilaian dan evaluasi, pentingnya pendidikan masyarakat, kerjasama, dan konsep pembelajaran siswa aktif. Guru yang mengajar di sekolah Finlandia memiliki kompetensi yang berkualifikasi Master, lulusan guru pendidikan, dan memiliki pengalaman praktek mengajar. Murid di Finlandia mendapatkan biaya yang gratis bahkan sampai pada tingkat pascasarjana. Bagi murid pendidikan dasar dan menengah mendapatkan pelayanan makan siang gratis. Kurikulum sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu Dewan Pendidikan Nasional Finlandia sangat memberikan wewenang kepada sekolah untuk melaksanakan pembelajaran dengan mengacu pada kurikulum inti nasional. 

Sumber Pustaka 
Suparyo, Yossy. 2005. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) UU No.20 Tahun 2003 beserta Penjelasannya. Yogyakarta:Media Abadi. 

Edu.fi. 2008. Kurikulum dan lingkungan belajar. http://www.edu.fi/english/SubPage.asp?path=500,4699. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009. Edu.fi. 2008. 

Sistem Pendidikan di Finlandia. http://www.edu.fi/english/SubPage.asp?path=500,4699. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009. 

Edu.fi. 2008. Sturktur Pendidikan. http://www.edu.fi/english/SubPage.asp?path=500,4699. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009. 

Edu.fi. 2008. Pendidikan Struktur. http://www.edu.fi/english/SubPage.asp?path=500,4699. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009. 

Irmeli Halinen. Proses Pengembangan Kurikulum Finlandia. http://www.excelgov.org/admin/FormManager/filesuploading/OECDKyro.pdf&ei. Diakses pada tanggal 23 Februari 2009. 

Korpella, Sella. 2008. Keberhasilan sekolah Finlandia masyarakat menunjukkan nilai-nilai. http://finland.fi/netcomm/news/showarticle.asp. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009. 

Oecd. 2008. Oecd Studi Tentang Sumber Belajar Digital Country Report Case Study On Finlandia. http://64.233.189.101/translate_c?hl=id&sl=en&u=http://www.oecd.org/dataoecd/25/21/41951860.pdf&prev=/search%3Fq%3Dlearning%2Bin%2Bfinlandia%26hl%3Did%26sa%3DG&usg=ALkJrhi_gWxZieVf7ONBhRzcIJEorxYDVg. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009. 

Oph.fi. 2008. Guru. www.oph.fi/nayttotukinnot. Diakses pada tanggal 3 Februari 2009.

Rabu, 22 Mei 2013

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengolahan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. 

Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial.

Beberapa Model Pengembangan Kurikulum:

Admistrative Model
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.

Ada 2 tim yang dibentuk oleh para administrative pendidikan ;
  1. Tim pengarah, terdiri atas :pejabat dibawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, tokoh-tokoh di dunia kerja dan perusahaan. TUGAS TIM PENGARAH: a) merumuskan konsep-konsep dasar, b) merumuskan landasan-landasan kurikulum, dan c) merumuskan kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum
  2. Tim kerja, terdiri atas: para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dan perguruan tinggi, guru-guru bidang studi yang senior. TUGAS TIM KERJA: a) menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional, b) menjabarkan konsep-konsep dan kenijaksanaan dasar yang telah digariskan oleh tim pengarah, c) merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan yang lebih umum, d) memilih dan menyusun sekuens bahan pelajaran, e) memilih strategi pengajaran dan evaluasi, dan f) menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut bagi guru-guru.

Ciri-ciri Administrative model (Top – Down):
  1. Membuat keputusan atau kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum
  2. Kurikulum ini tidak mengacu pada perubahan kebutuhan masyarakat, tetapi cenderung memenuhi pola pikir pihak atasan (birokrat) dalam pendidikan
  3. Bersifat sentralisasi
Grass Root Model
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Diberi nama Grass root karena inisiatif dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah:
  1. Perencana
  2. Pelaksana
  3. Penyempurna dari pengajaran di kelasnya

Dari beberapa kajian di atas, maka dapat ditemukan ciri-ciri dari grass root model yaitu:
  1. Guru memiliki kemampuan yang professional
  2. Keterlibatan langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan dan penentuan evaluasi
  3. Muncul konsensus tujuan, prinsip – prinsip maupun rencana – rencana diantara para guru
  4. Bersifat desentralisasi dan demokratis

Pengembang Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi yaitu administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru dan orang tua.

Peranan para Administrator Pendidikan

Para administrator pendidikan terdiri atas: 
  1. Direktur bidang pendidikan
  2. Kepala pusat pengembangan kurikulum
  3. Kepala kantor wilayah
  4. Kepala kantor kabupaten, kecamatan
  5. Kepala Sekolah

Peran para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) yaitu :
  1. Menyusun dasar-dasar hukum
  2. Menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum

Atas dasar dari peranan para administrator pusat, maka para administrator daerah (kepala kantor wilayah, kabupaten, kecamatan, kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yang secara terus-menerus terlibat dalam dalam mengembangkan dan mengimplementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator lokal harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sistem pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figur kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.

Peranan para Ahli
Mengacu pada kebijaksanaan yang ditetapakan pemerintah, maka peranan para ahli yakni :
  1. Memeberikan alternatif konsep pendidikan dan model kurikulum yang dipandang paling sesuai dengan keadaan dan tuntuatan di atas.
  2. Berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum baik dalam tingkat pusat maupun pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah seperti:
  3. Memilih materi bidang ilmu yang mutakhir dan sesuai dengan pengembangan tuntutan masyarakat.
  4. Menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan, tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.

Peranan Guru 
Guru memegang peranan yang sangat penting baik di dalam perencanaan maupu pelaksanaan kurikulum. Beberapa peran guru sebagai berikut :
  1. Sebagai perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya.
  2. Sebagai penerjemah kurikulum yang datang dari atas.
  3. Mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya.
  4. Melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum.
  5. Menilai perilaku dan prestasi belajar siswa si kelas
  6. Menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas
  7. Sebagai seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manager sistem pengajaran
  8. Pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubungannya dengan pelaksanan pendidikan seumur hidup
  9. Sebagai pelajar dalam masyarakatnya
  10. Menciptakan kegiatan belajar mengajar, situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
Peranan Orang Tua Murid
Peranan orang tua murid dalam pengembng kurikulum yaitu, melalui pengamatan dalam kegiatan belajat di rumah, laporan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.

Kesimpulan

Ada beberapa model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum diantaranya "Administrative model dan Grass Root model". Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dipakai serta model konsep pendidikan mana yang digunakan.

Administrative model yaitu suatu model pengembangan kurikulum yang direncanakan oleh pihak atasan yang kemudian diturunkan kepada instansi-instansi bawahan sampai kepada guru-guru. Sedangkan Grass Root model yaitu inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum datang dari bawah atau dari pihak guru-guru atau sekolah secara individual dengan harapan agar meluas ke sekolah-sekolah lain.

Berkaitan dengan perubahan, pembaharuan, perbaikan dan pengembangan kurikulum, maka sangat dibutuhkan peran serta berbagai pihak agar dalam mewujudkan perubahan dan pembaharuannya dapat berjalan dengan baik, serasi dan harmonis sehingga apa yang menjadi tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Persiapan Presentasi Makalah "KTSP"
Pendahuluan

Pemerintah telah mempercepat pencanangan Milenium Development Goals, yang ssemula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi tahun 2015. Milenium Development Goals adalah era Pasar Bebas atau Era Globallisasi. Sebagai era pencanangan mutu atau kualitas, siapa yang berkualitas dialah yang akan maju dan mampu mempertahankan eksisitensinya. Oleh karena itu pembangunan SDM yang berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal tersebut mutlak dilakukan, karena akan menjadi penopang utama pembanguanan nasional yang mandiri dan bekeadilan, Good Governance and Clean Govenance, serta menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari multidimensi krisis, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.

Salah satu cara untuk meningkatkan SDM adalah melalui peningkatan pendidikan. Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum meerupakan komponen pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Karena kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang disusun oleh pemerintah pusat menyertai kurikulum tersebut.

Apa itu KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Sekolah dan Komite Sekolah, atau Madrasah dan Komite Madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan silabus berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi kelulusan.

KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakaqn keharusan agar sistem pendidikan nasional tersebut selalu relevan dan kompetitive. Hal tersebut juga sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya dengan memperhatikan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36:
  1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
  2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
  3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP.
Dalam pengembangan KTSP, perlu juga diperhatikan upaya-upaya memaksimalkan fungsi dan peran stratetgis guru dan dosen yang meliputi :
  1. Penegakan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional
  2. Pembinaan dan pengembangan potensi guru dan dosen
  3. Perlindungan hukum
  4. Perlindungan profesi
  5. Perlindungan keselamatan dan keselamatan kerja
Tujuan KTSP
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (ototnomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah sebagai berikut
  1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
  3. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.
Landasan Pengembangan KTSP
KTSP dilandasi oleh UU dan peraturan pemerintah sebagai berikut :
  1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
  2. Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  3. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar Isi
  4. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi kelulusan
  5. Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23
Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga pendidikan, serta sistem penilaian karakteristik KTSP sebagai berikut ”pemberian otonomi yang luas kepada sekolah satuan pendidikan, partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi, kepemimpinan yang demokratis dan profesional , serta tim kerja yang kompak dan transparan.

UU SPN No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 19
Menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Prinsip-prinsip umum kurikulum dan pengajaran adalah siswa diberi kesempatan mempraktekkan perilaku munurut tujuan, pengalaman belajar, memberikan kesempatan bagi siswa menghadapi isi pelajaran. Siswa memperoleh kepuasan menerima pelajaran, level pelajaran dalam rentang yang dimungkinkan bagi siswa untuk dilibatkan. Pengalaman belajar memberikan hasil yang nyata dan pembelajaran siswa akan diperkuat, diperdalam dan diperluas. Dengan demikian pada prinsipnya kurikulum di desain untuk dapat diterima siswa dengan baik, karena jika siswa tidak mampu mengikuti kurikulum yang disampaikan maka kurikulum tersebut tidak akseptabel.