Translate

Rabu, 05 Juni 2013

AIR MUSI ITU MANIS KAWAN

Destika Cahyana*)
(email: destika_cahyana@yahoo.com)

Penulis Cerita (Sang Kakak di Tanah Seberang)
Air cokelat yang mengalir di Sungai Musi itu manis kawan. Bila tak percaya, cicipilah! Lidahmu pasti merasakan manisnya sungai yang berhulu di Bengkulu dan mengalir ke Selat Bangka.
 
Tapi itu dulu kawan. Saat aku masih berselancar di dunia maya dari sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Di layar monitor di warnet samping sekolah tempatku mengajar, aku menemukan air sungai musi. Di sana sebuah pemerintah daerah yang dibelah Sungai Musi, mengumumkan ke segala penjuru negeri: mereka butuh guru tetap. Tentu sebagai guru honor, aku tertarik dengan tawaran itu.
Disebut manis karena aku menyangka pemerintah daerah itu sangat maju. Ia sedikit di antara kabupaten di seluruh tanahair yang mengumumkan kebutuhan pegawainya melalui internet. Kebanyakan daerah lain mengumumkannya lewat koran lokal.
Disebut manis juga karena dari internet pula aku mendapatkan diriku bernasib manis. Ya, di sebuah situs pengumuman, aku diterima sebagai pegawai negeri sipil di tanah yang dilalui Sungai Musi. Aku akan menghampirimu Musi. Sungai yang sebelumnya hanya kukenal dari buku yang kubaca selagi bocah. Manis bukan kawan? Di Jawa, meski aku menyandang sebutan guru teladan, tetap saja aku hanya honorer yang pahit.
***
            Lima tahun lalu aku masih berstatus sebagai mahasiswi di sebuah fakultas keguruan di perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Di kampus aku giat mengikuti beragam kegiatan intra dan ekstra kampus. Kala itu masa yang paling mengesankan ialah saat aku bergiat di sebuah organisasi mahasiswa keagamaan kultural.
Meski banyak teman menyebutku tidak gaul karena bergabung di organisasi itu, aku tak peduli. Perempuan di organisasi itu kerap disebut mahasiswi kerudungan, yang pria disebut mahasiswa sarungan. Ah, teman-temanku ada-ada saja. Mereka pasti tak tahu apa yang kami lakukan.
            Sejujurnya aku bahagia di sana. Aku mengenal persaudaraan seagama, sebangsa, dan sesama umat manusia di sana. Aku juga mengetahui banyak kakak-kakakku yang dianggap tradisional ternyata berkuliah di luar negeri: dari Timur Tengah hingga negeri Paman Sam.
            Mereka kakak-kakakku giat belajar. Obsesi mereka mematahkan anggapan sarungan yang melekat di tubuh. Sepulang dari luar negeri mereka kerap datang berdiskusi dengan kami. Dari diskusi itulah kuketahui mereka pintar, kritis, modern, dan penuh ide gila. Sebutan kaum sarungan yang hanya manut tak tergambar sama sekali.
Yang jelas mereka pandai mengawinkan budaya lokal di tanahair dengan budaya maju di barat juga di timur. Mereka tak mentah-mentah menerima yang dari timur atau dari barat. Ciri khas mereka yang utama ialah lembut dan toleransi pada yang beda, bahkan melindungi yang minoritas.
Aku iri pada mereka. Hingga kemudian aku lulus dan mesti kembali ke sebuah kota di kaki Gunung Muria sebagai guru honor. Beragam pengalaman di organisasi dan diskusi dengan kakak di organisasi dulu yang menuntunku menjadi guru honor teladan di kabupaten. Aku berhasil mengawinkan teknik belajar quantum ala Amerika untuk anak desa.
Di kota sendiri teknik itu hanya dipakai di sekolah internasional dan kursus yang mahal. Kadang aku bangga. Tapi, tetap saja, status honor ternyata pahit kawan. Hidup di Daerah Aliran Sungai Musi sebagai PNS tentu lebih manis bukan? Itu pikirku ketika itu.
***
           
          Di sini, di daratan yang mesti ditempuh 4,5 jam perjalanan speedboat dari bawah Jembatan Ampera, Palembang, aku ditugaskan. Setiap hari hanya ada 1 speedboat berkapasitas 12 orang yang menghubungkan daratan ini dengan pusat kota. Mereka menyebut daratan ini sebagai jalur.
Nama daerah disebut dengan angka sesuai dengan penomoran jalur-jalur yang dulu dibuat ketika program transmigrasi dicanangkan. Listrik asal mesin diesel hanya menerangi malam sehabis magrib hingga selepas isya. Selebihnya daratan ini ditemani lampu petromak atau gelap gulita.
       Sekolah tempatku mengajar hanya satu-satunya di kecamatan. Dengan guru seadanya yang merangkap-rangkap mata pelajaran. Konon, pernah ada 10 guru pegawai negeri sipil diangkat 3 tahun silam secara berbarengan. Namun, tak sampai setahun, lambat laun tinggal 1 yang tersisa dari angkatan mereka. Entah karena apa.
            Ah, aku seperti terlempar dari kaki Gunung Muria yang pahit ke Tanah Musi yang kukira manis. Jalur-jalur sungai yang membelah daratan kami mirip Venesia yang ditelantarkan. Atau lebih tepatnya embrio Venesia sebelum menjadi kota sungai terindah di dunia. Aku tak tahu yang mana yang tepat.
Siswanya ...
Satu-satunya hal istimewa yang kurasakan saat ini hanya satu. Aku menemukan seorang perempuan muda guru fisika. Ia 1 guru yang tersisa dari 10 orang yang datang 2 tahun silam. Ya, guru muda itu masih bertahan mengajar di jalur. Bahkan setiap akhir pekan ia kembali ke Palembang untuk menyelesaikan gelar master. 
Di kepala perempuan muda itu ada mimpi menjadikan anak-anak daratan itu mengubah jalur menjadi Venesia di kemudian hari. Lagi-lagi aku iri pada dia, seperti aku iri pada kakak-kakakku dulu kala masih di bangku kuliah. Tapi setidaknya, air cokelat di Sungai Musi kembali manis kawan. Bila tak percaya, cicipilah!***
Poskan Komentar