Translate

Jumat, 02 Desember 2011

SEJENAK UNTUK DIRENUNGKAN

oleh Dina Rosdiana 
pada 10 Januari 2010 jam 16:20 

Coba lihatlah bangunan keluarga lengkap dengan segala aspek yang terkait denganya. Lihatlah pula bagaimana sebuah bahtera. Bandingkan antara keduanya. Tidak salah jika kita katakan bahwa keluarga memang ibarat bahtera, yang butuh kesatuan tekad di antara orang-orang yang ada di dalamnya ---terutama suami dan istri sebagai pemegang kendali--- agar bisa satu arah dalam berlayar. 

Butuh kesadaran dan kesungguhan yang senantiasa terjaga di atas ketekunan dan kesabaran, agar mampu menghadapi dan keluar dengan selamat dari setiap gelombang, atau bahkan badai yang pasti hadir di tengah samudra kehidupan. Di saat baru mulai berlayar; saat-saat indah penuh harmoni dalam tekad yang padu dan masih segar karena baru diikrarkan, sapaan nan idndah dan perhatian penuh kelembutan, angin sepoi menghilir permukaan pantai yang tenang, dan bintang-bintang pun bertaburan menyertai senyum sang rembulan. Keindahan yang terperikan!!! 

Tapi ketika bahtera makin jauh dari tambatan, makin ke tengah makin sering menemui berbagai persoalan yang menjadi realistis dalam mengarungi samudera, berupa panas terik yang menyengat di kala siang, malam dingin gelap tanpa penerang, gejolak ombak dan badai yang setiap saat datang menghadang perjalanan, dalamnya fitnah yang mengancam, menenggelamkan, seiring bertambahnya muatan yang menjadikan makin banyaknya urusan yang menjadi persoalan, meluruhkan keindahan dan memudarkan ikatan. Oleh karenanya, jika ada saat ketidakharmonisan hadir karena dipicu perbedaan yang sepele sekalipun, hendaklah diingat saat-saat indah penuh kemesraan yang pernah dirasakan, dan menjadikan kenangan selama proses menuju pernikahan dulu menjadi penyejuk hati saat kegerahan. Apabila terdapat beberapa perkara yang ada pada belahan hati, yang ternyata bukan sebagaimana yang diharapkan, atau terdapat selisih dari gambaran tak kala di awal mencoba saling mengenali, maka sebagai mukmin ia mesti mampu menjaga batas pada apa yang bermanfaat baginya saat ini dan di masa yang akan datang. Tiada lagi guna penyesalan seberapapun itu, niscaya lebih baik jika bisa menerima sepenuh kesadaran atas semua keadaan yang sama-sama telah menjadi milik berdua ---baik itu kelebihan atau kekurangan, keutamaan ataupun cela--- kemudian berusaha mengambil apa yang perlu dan bermanfaat untuk memperbaiki dan menyempurnakannya. 

Sebaiknya masing-masing memahami, bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam banyak hal dan pernah berproses dengan alur serta pentahapan yang berbeda pula. Bahkan modal awal yang diberikan Allah bagi masing-masing kita boleh jadi juga berbeda sehingga capaian saat ini bukanlah ukuran nilai di sisi Allah, karena bobotnya apa pada usaha. Belahan hati bukanlah boneka yang bisa kita permak sesuka hati kita. Ia juga bukan benda mati yang bisa kita perlakukan sekehendak selera. Kebersamaan niscaya tidak akan pernah sempurna kecuali dengan pengertian yang cerdas dan dewasa. Yang sebagiannya adalah pemahaman atas harapan masing-masing, yang realistiasnya hampir mustahil untuk persis-sama. Harmoni yang kita dambakan adalah perpaduan antara kasih sayang, tanggung jawab, dan pengertian. Makna dari sebuah ikatan adalah kukuhnya amanah. 

Oleh karena itu, masing-masing sudah semestinya menegakkan hak dan kewajiban sesuai syariat yang telah ditetapkan, sebagai istri bagi suami, sebagai suami dari istri, sebagai anak dan menantu dari orang tua dan mertua, bahkan sebagai tetangga orang-orang sekitar. Semestinya diingat pula bahwa pernikahan memuat makna yang lebih luas dari sekedar terjadinya ikatan di antara dua insan, namun ia juga merupakan salah satu pilar dari bangunan kekuatan yang dibutuhkan demi tegaknya Dienul Islam. Ia semestinya menjadi bagian dari solusi di antara masalah yang terus bertambah, untuk menebus kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Keluarga adalah pondasi utama untuk memperkokoh pijakan perjuangan ketika ia bersedia menjaga orientasi dan mampu mendidik generasi yang dilahirkannya.  

(Membuka memori resepsi pernikahanku 22 Desember 2002) 
Tulisan ini kuhadiakan kepada semua teman-temanku yang telah banyak membantu, meluangkan waktu hingga hari bersejarah itu ada dalam perjalanan hidupku. Semoga inipun menjadi renungan para sahabatku dengan kekasih-kekasihnya. 

Spesial: Abi Bayumi yang menemani hari-hari ummi dengan kelembutan dan cinta.
Poskan Komentar