Translate

Senin, 09 November 2009

DENGAN HARLA KOHATI; PERKUAT UKHUWAH, BERSIHKAN HATI

disampaikan pada Peringatan HARLA KOHATI ke 43 Tahun, di Gedung YPU, 30 September 2009

KOHATI
KOHATI singkatan dari Korp HMI-Wati (pasal 1 ayat a PDK), yang didirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 pada Kongres VIII di Solo (pasal 2 ayat a PDK). 

KOHATI bertujuan (pasal 3) terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita (akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam, bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat adil dan makmur). 

KOHATI berfungsi sebagai wadah peningkatan dan pengembangan potensi kader dalam wacana dan dinamika keperempuan (pasal 6 PDK). 

Peran KOHATI (pasal 7 PDK) adalah sebagai pencetak dan pembina muslimah sejati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an.

Gagasan pembentukan KOHATI lahir pas musyawarah kerja HMI jaya pada tanggal 12 desember 1965 dengan maksud lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota HMI Putri dan ikut serta dalam melaksanakan cita-cita perjuangan bangsa melalui satu wadah dan membentuk HMI-Wati menjadi kader-kader yang peduli pada organisasi kemasyarakatan, sosial politik serta bidang kewanitaan.

Kemudian KOHATI dikukuhkan dengan Surat Keputusan No. 239/A/Sek/1966 tertanggal 11 juni tentang pembentukan Korp HMI-Wati. Untuk sementara korp ini dibentuk daalam tingkatan cabang, komisariat dan rayon dengan status semi otonom. Pembentukan KOHATI secara nasional dilaksanakan pada kongres VIII HMI di Surakarta tanggal 10-17 september 1966, dalam sub komisi musyawarah HMI-Wati telah memtuskan mendirikan Korps HMI-Wati disingkat KOHATI tanggal 17 september 1966. Dalam buku lain dijelaskan latar belakang berdirinya KOHATI karena situasi politik akibat meletusnya Gestapu/PKI. Untuk mempersatukan seluruh guna menumpas kekuatan gerakan 30 september, muncullah kesatuan kesatuan aksi termasuk Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI). Dan sebagai perwakilan HMI-Wati dibentuklah KOHATI. Selain itu situasi intern HMI sendiri, didirikan lembaga-lembaga khusus yang bertujuan mengembangkan keahlian dari anggotanya. Lahirlah KOHATI dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan serta pembinaan HMI-Wati di bidang kewanitaan baik intern maupun ekstern HMI.

Agusalim dalam makalah yang disampaikan pada seminar sejarah KOHATI di Yogyakarta 19-20 november 1982, memaparkan bahwa yang menjadi latar belakang berdirinya KOHATI adalah :
  1. karena semangat dan jiwa islam yang tertanam pada setiap anggota HMI- Wati yang menempatkan wanita pada tempat wajar.
  2. karena semangat dan realisasi emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh RA Kartini.
  3. karena tuntutan HMI sendiri, karena secara kuantitas maupun kualitas memungkinkan sekali mendirikan KOHATI sebagai badan khusus yang bergerak di bidang kewanitaan.
  4. kondisi intern yaitu dengan berdirinya sebagai korp di kalangan angkatan bersenjata, memacu semangat HMI-Wati mendirikan wadah sejenis.
  5. faktor politik, agar HMI-Wati ikut bersama kelompok wanita lain bekerjasama menumpas Gestapu/ PKI.
  6. karena berdirinya lembaga –lembaga khusus dalam HMI seperti LDMI, LKMI, LSMI, LPMI, LAPMI, dan lain lain.
  7. dalam rangka peningkatan dan pengembangn kegiatan dan pembinaan HMI-Wati di bidang kewanitaan dalam rangka pembentukan kader HMI-Wati sebagai patriot komplit.
Ada dua alasan mengapa KOHATI menurut Panduan Dasar KOHATI (PDK) pada saat itu didirikannya, yaitu:
  1. Secara internal, departemen keputrian yang waktu itu sudah ada tidak mampu lagi menampung aspirasi para kader HMI-Wati, disamping basic-needs anggota tentang berbagai persoalan keperempuan kurang bisa difasilitasi oleh HMI. Dengan hadirnya sebuah institusi yang secara spesifik menampung aspirasi HMI-Wati, diharapkan secara internal, HMI-Wati dapat memiliki keleluasaan untuk mengatur diri mereka sendiri dan lebih memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan organisasi yang muncul dari basic-needs anggotanya sendiri (HMI-Wati).
  2. Secara eksternal, HMI mengalami tantangan yang cukup pelik dikaitkan dengan hadirnya lawan “ideologi” HMI yaitu komunisme yang masukk melalui pintu gerakan perempuan (gerwani). Selain itu maraknya pergerakkan keperempuan yang ditandai dengan munculnya organisasi perempuan dengan berbagai variasi bentuk ideologi, pilihan isu, maupun strategi gerakannya membuat HMI harus :merapatkan barisannya” dengan cara terlibat dalam kancah gerakan perempuan berbasis organisasi perempuan.
Atas pertimbangan itulah KOHATI didirikan, dengan terpilihnya Anniswati Rochlan (sekarang dikenal dengan Anniswati M. Kamaluddin) sebagai Ketua Umum KOHATI pertama pada waktu itu.

Sesuai dengan ide dasar pembentukkannya, maka proses pembinaan di KOHATI ditujukan untuk peningkatan kualitas dan peranannya dalam wacana keperempuan. Ini dimaksudkan bahwa ativitas HMI-Wati tidak saja di KOHATI dan HMI, tetapi juga dalam masyarakat luas, terutama dalam merespon, mengantisipasi berbagai wacana keperempuan. Dengan demikian, maka jelas bahwa tugas KOHATI adalah melakukan akselerasi pada pencapaian tujuan HMI.

Untuk dapat menjalankan peranannya dengan baik maka KOHATI harus membekali dirinya dengan meningkatkan kualitasnya sehingga anggota KOHATI memiliki watak dan kepribadian yang teguh. Kemampuan intelektual, kemampuan profesional serta kemandirian dalam merespon, mengantisipasi berbagai wacana keperempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Peningkatan kualitas ini, dilakukan KOHATI melalui proses pembinaan yang terencana dan terarah melalui serangkaian aktifitasnya. Dalam lingkup melakukan aktivitas sehari-hari, baik dalam konteks pembinaan kader di lingkup intern HMI maupun dalam konteks perjuangan di lini gerakan perempuan di lingkup ekstern HMI, ada beberapa prinsip-prinsip (kode etik) yang harus dipegang dalam menjalankan aktivitas. Berbagai prinsip atau kode etik tersebut adalah:
1. Ta’aruf (pengenalan)
2. Tafahum (saling sefaham)
3. Ta’awwum (saling tolong menolong)
4. Takaful (saling berkesinambungan)

MAKNA HARI LAHIR KOHATI
Beberapa saat lagi, genap sudah 43 tahun KOHATI mewarnai perjalanan HMI, baik intern maupun ekstern. Selama itu banyak hal yang telah tercapai namun banyak juga yang belum terwujud. Setiap lembaga pasti mempunyai hari lahirnya, dan masing-masing punya cara untuk merayakannya.

Hari lahir atau yang lebih akrkrab disebut HARLA adalah waktu intropeksi kembali, melihat ke belakang dan menata masa depan secara lebih baik lagi. HARLA KOHATI tahun ini sungguh luar biasa dan istimewa karena bersamaan dengan bulan suci Ramadhan. HARLA ini adalah sebuah momen yang sangat bersejarah dalam perjalan KOHATI khususnya dan HMI secara umumnya. Yakni sebuah tekad yang bulat untuk mewujudkan tujuan KOHATI sebagai perpanjangan dari tujuan HMI.

Lalu apa makna Hari lahir (HARLA) KOHATI?. Makna HARLA adalah memulai suatu kehidupan yang baru, memulai sesuatu yang baru, sebagaimana awal dalam menjalani cita-cita KOHATI yang dimulai betul-betul dari bawah, dari awal perjalanan berdirinya KOHATI hingga sekarang ini.

Kalau biasanya pada saat HARLA mendapatkan ucapan selamat, dari anggotanya. Namun bagi KOHATI kado terindah adalah para kadernya mampu memanifestasikan apa yang menjadi acuan perjuangan yang tertera dalam PDK dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang melahirkan kader-kader KOHATI yang menjadi jembatan bagi saudara-saudaranya, lingkungannya, terkhusus dirinya pribadi. Selain doa yang indah, tentunya adalah kebersamaan (ukhuwah) yang dilandasi iman, dan kebersihan hati dalam menyikapi persoalan yang akan dihadapi. Inilah yang harus dimiliki para kader KOHATI hari ini, esok dan tentunya selamanya.

POSISI KOHATI DI HMI
Sebagai organisasi kader, misi HMI dapat ‘dibantu’ dikembangkan dalam bidang keperempuanan. Namun perubahan yang mendasar dapat dilakukan dalam suatu wadah pengembangan organisasi, yang di HMI disebut dengan KOHATI. Eksistensi KOHATI menjadi satu hal yang sangat penting, karena ia menjadi “laboratorium hidup” dalam menghasilkan HMIWati yang berkualitas menghadapi masa depan. Kualitas yang dihasilkan adalah kualitas terbaik sebagai seorang putri terhadap orang tuanya, seorang ibu bagi anak-anaknya, seorang istri bagi suaminya kelak, serta menjadi seorang anggota masyarakat.

Adalah suatu hal naif bila dikatakan eksistensinya menjadi kehilangan makna. Di kelompok manapun, suatu kelembagaan berdasarkan segragasi seks niscaya diperlukan. KOHATI (Korp HMI Wati) sebagai sebuah lembaga keperempuanan yang ada di Himpunan Mahasiswa Islam tentulah juga memiliki peran penting dalam pergerakan perempuan di Indonesia. Sejak didirikannya pada tanggal 17 September 1966, peranannya dirasakan bukan hanya di lingkungan internal organisasi, namun pula masyarakat secara keseluruhan.

Sebagai lembaga perkaderan, KOHATI sesungguhnya memiliki tujuan yang mulia, yakni terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita. Berbagai dinamika perkembangan KOHATI dari periode ke periode menunjukkan karakter dan pencirian yang berbeda-beda. Misalnya saja dapat dilihat pada awal pembentukannya, terdapat tiga semangat yang melatarbelakangi lahirnya KOHATI ini, yakni eksistensi, aktualisasi serta akselerasi.

Eksistensi yang dimaksud adalah adanya suatu semangat dan kesadaran dari kaum hawa untuk dapat menjadi subjek dalam pembangunan bangsa. Sedangkan, aktualisasi bermaksud untuk menyatakan dalam tindakan nyata untuk mengadakan pembaharuan dan perbaikan dalam menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah. Serta, akselerasi adalah semangat dalam melakukan percepatan peran sosiologis dan politis, yang ditunjukkan sebagai lembaga.

Tentulah sejak didirikan, KOHATI mengalami tantangan zaman yang luar biasa mempengaruhinya. Almarhum Anniswati secara luar biasa pula pernah menuliskan bahwa ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita bersama dengan keberadaan lembaga ini. Hal tersebut antara lain peningkatan kualitas KOHATI secara periodik dan kontinue di tingkat pusat, regional dan cabang; kepemimpinan KOHATI yang handal, kompak dan terdiri atas berbagai disiplin ilmu, adanya pemanfaatan para alumniwati di setiap periode bagi perkembangan KOHATI; adanya pembinaan langsung dari HMI; serta berbagai program tukar informasi. Dikatakan luar biasa karena keseluruhan yang disebutkan oleh beliau masih dirasakan sampai sekarang.

UKHWUWAH ISLAMIYAH 
Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). 

Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah. Hakekat Ukhuwah Islamiyah:
1.Nikmat Allah (Q.S. 3:103)
2.Perumpamaan tali tasbih (Q.S.43:67)
3.Merupakan arahan Rabbani (Q.S. 8:63)
4.Merupakan cermin kekuatan iman (Q.S.49:10)

Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah:
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan akidah (missal:ikatan keturunan orang tua-anak, perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi)

Peringkat-peringkat ukhuwah:
  1. Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)
  2. Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)
  3. Ta’awun adalah saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran
Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:
  1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
  2. Memohon didoakan bila berpisah
  3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
  4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
  5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
  6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
  7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
  8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
  9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
Manfaat Ukhuwah Islamiyah
  1. Merasakan lezatnya iman
  2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
  3. Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. 15:45-48)
Di antara unsur-unsur pokok dalam ukhuwah adalah cinta. Tingkatan cinta yang paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki, dan bersih dari sebab-sebab permusuhan

Al-Qur’an menganggap permusuhan dan saling membenci itu sebagai siksaan yang dijatuhkan Allah atas orang0orang yang kufur terhadap risalahNya dan menyimpang dari ayat-ayatNya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Ma’idah:14

Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih tinggi dari lapang dada dan cinta, yaitu itsar. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai. Ia rela lapar demi kenyangnya orang lain. Ia rela haus demi puasnya prang lain. Ia rela berjaga demi tidurnya orang lain. Ia rela bersusah payah demi istirahatnya orang lain. Ia pun rela ditembus peluru dadanya demi selamatnya orang lain.

Islam menginginkan dengan sangat agar cinta dan persaudaraan antara sesama manusia bisa merata di semua bangsa, antara sebagian dengan sebagian yang lain. Islam tidak bisa dipecah-belah dengan perbedaan unsur, warna kulit, bahasa, iklim, dan atau batas negara, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertikai atau saling dengki, meskipun berbeda-beda dalam harta dan kedudukan.

Makna Ukhwuwah Islamiyah
Untuk menggambarkan dalamnya persaudaraan dalam Islam (ukhuwah Islamiyah), Allah SWT menggunakan kata ikhwah, yang berarti ''saudara kandung'' (Q.S. 49: 10).

Ini berbeda dengan ikhwan, yang artinya ''berteman'', sebagaimana digunakan Allah dalam surat Ali 'Imran 103, untuk melukiskan bagaimana suku-suku Arab pada zaman Jahiliyah yang semula bermusuh-musuhan, kemudian bersatu setelah memeluk Islam.

Jadi, setelah berada dalam satu agama, setiap muslim adalah teman bagi yang lain. Dan setelah keislaman itu meningkat, setiap muslim seharusnya dapat memandang muslim lain sebagai saudara kandungnya.

Ukhuwah Islamiyah dapat diwujudkan -- seperti disabdakan Nabi SAW -- antara lain dalam bentuk bahwa seorang muslim harus dapat mencintai muslim lain sebagaimana ia mencintai diri sendiri; bahwa seorang muslim harus dapat merasakan kesulitan yang dialami muslim lain, sebagaimana sakit pada satu anggota tubuh dirasakan oleh seluruh anggota tubuh lain; bahwa seorang muslim harus saling menyokong, sebagaimana satu bagian bangunan menyangga bagian lain.

Di dalam Alquran, Allah SWT meminta agar seorang muslim tidak memusuhi, mencaci, mengolok-olok, dan berburuk sangka kepada muslim lain (Q.S. 49: 9-12). Yang perlu dikembangkan justru sikap saling memaafkan (Q.S. 24: 22). Bahkan sesama muslim perlu saling mendoakan (Q.S. 3: 159) dan awliya', lindung-melindungi (Q.S. 9: 71). Kita jangan seperti orang kafir yang mengambil Taghut sebagai pelindung, karena mereka berjuang untuk keangkaramurkaan (Q.S. 2: 257 dan 4: 76). Dan kita jangan seperti orang munafik yang saling menyokong justru dalam menganjurkan yang munkar, melarang yang makruf, kikir, dan tak mengindahkan Allah (Q.S. 9: 67).

Persaudaraan Islam menghendaki wujud nyata, yaitu minimal pengorbanan dalam harta benda. ''Jika mereka tobat, mendirikan salat, dan membayar zakat, barulah mereka teman kalian seagama,'' tegas Allah SWT (Q.S. 9: 11). Yang harus dikeluarkan bukan hanya zakat, tapi juga infak (Q.S. 2: 195), yaitu kewajiban keuangan yang besarnya tergandung kerelaan (iman) penyumbang.

Wujud persaudaraan dalam Islam bahkan sampai kepada kesediaan mengorbankan nyawa. Allah berfirman: 
''Bagaimana kalian tiadakan berperang di jalan Allah bagi orang-orang tertindas -- laki-laki, perempuan, dan anak-anak itu -- yang berseru, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari kota ini, yang penduduknya berbuat zalim. Berilah kami perlindungan dari-Mu. Dan berilah kami pembela''' (Q.S. 4: 75).

Hakikat Ukhuwah yang Sebenarnya
Islam telah memberikan perhatian penuh akan adanya ikatan yang kuat pada sendi-sendi ukhuwah yang melahirkan di dalamnya cinta kerana Allah SWT dan menjadikan ukhuwah sebagai wasilah pengikat jiwa dan hati dan merupakan dasar pokok-pokok keimanan yang tidak akan sempurna keimanan seseorang kecuali dengannya dan tidak akan dapat direalisasikan kecuali dengan keberadaannya; bahkan dijadikan sebagai ikatan yang paling erat dari pokok-pokok keimanan dan kesempurnaan nilai-nilainya. Allah swt berfirman: “Hanyalah orang-orang beriman yang bersaudara”. (QS Al-Hujurat :10).

Dan Nabi saw bersabda: “Seorang muslim adalah saudara dengan muslim lainnya, tidak boleh menzaliminya, tidak membiarkannya, tidak merendahkannya dan tidak menghinakannya” . (Muttafaq alaih).

Dan Nabi saw juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta kasih dan empati adalah seperti satu tubuh, jika salah satu tubuh darinya mengadu pada suatu penyakit maka anggota tubuh lainnya akan merasa sakit dan demam”. (Muttafaq alaih)

Oleh kerana itulah di antara salah satu rukun dari rukun bai’ah kita adalah ukhuwah, dan di antara salah satu dasar perbaikan sosial secara universal yang dibawa oleh Islam adalah memproklamasikan adanya ukhuwah di antara umat manusia.

Makna Ukhwuwah
Imam al-Muassis (perintis) Hasan Al-Banna semoga Allah merahmatinya berkata: “Yang saya maksudkan dengan ukhuwah adalah : mengikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa ini dengan ikatan aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kukuh dan paling mahal harganya, dan ukhuwah adalah saudara keimanan, sementara perpecahan adalah teman dari kekufuran, kekuatan yang utama adalah persatuan dan tidak ada persatuan tanpa cinta, dan cinta yang paling rendah adalah lapang dada, sementara yang paling tinggi adalah itsar(mengutamakan saudaranya).
 “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. (QS Al-Hasyr : 9)
Al-akh yang jujur adalah yang melihat saudaranya lebih utama daripada dirinya sendiri; kerana jika tidak dengan mereka maka dirinya tidak bersama dengan yang lainnya dan jika mereka tidak bersama dengannya maka mereka akan bersama dengan yang lainnya; Sesungguhnya serigala akan makan kambing yang tersesat sendirian”. (HR Abu Daud dan ditashih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Dan nabi bersabda: 
“Seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya seperti bangunan, saling memperkukuh sebahagiannya dengan sebahagian lainnya”. (Muttafaq alaih) “Dan orang-orang beriman laki-laki dan wanita sebahagian mereka menguatkan sebahagian lainnya”. (QS At-Taubah: 71).
Ukhuwah menurut kami adalah agama, dan jamaah ini masih terus :
  1. Bercita-cita dan bersemangat untuk mewujudkan ukhuwah yang benar dan sempurna di antara mereka.
  2. Bersungguh-sungguh untuk tidak mengeruhkan kemurnian dan kesucian hubungan mereka sedikitpun
  3. Menyedari bahwa ukhuwah dalam agama adalah sebaik-baik wasilah yang dapat mendekatkan diri dengannya kepada Allah. 
  4. Tetap memelihara kemuliaan darjat yang tinggi.
  5. Bercita-cita untuk sentiasa memperhatikan hak-haknya sehingga mampu membersihkan hal-hal yang boleh mengeruhkan suasana dan dari bisikan-bisikan syaitan dan para ulama telah menjadikan serendah-serendah darjat ukhuwah adalah berinteraksi dengan saudaranya dengan apa yang dicintai dalam berinteraksi dengannya.
Dan di antara hak-hak ukhuwah adalah sabar terhadap kesalahan al-akh sampai dirinya mampu mengembalikannya kepada kebenaran tanpa diperbesarkan (disiarkan) akan kesalahannya atau menyebarkan kesalahan dan kekeliruannya.

Abu Darda berkata: 
“Jika saudara kamu berubah dan bertingkahlaku berbeza dari apa yang ada dalam dirinya maka janganlah ditinggalkan kerana hal tersebut; kerana boleh jadi saudara kamu bengkok (salah) pada suatu ketika namun lurus kembali pada ketika yang lain”. 

Ibrahim An-Nakha’i berkata: 
“Janganlah engkau memutus hubungan saudara atau meninggalkannya di sisi serigala, kerana boleh jadi suatu kali dirinya salah namun esoknya dapat ditinggalkan”.
Dalam atsar yang lain disebutkan: Nabi Isa berkata kepada al-hawariyun: Bagaimana kamu memperlakukan saudara kamu jika melihatnya tidur lalu angin bertiup dan menyingkap pakaiannya? Mereka menjawab: akan kami singsingkan bajunya dan menutupinya. Nabi Isa berkata: namun kamu akan menyingkapkan auratnya! Mereka berkata: Maha suci Allah! Siapakah yang melakukan demikian? Beliau berkata: Salah seorang dari kamu yang mendengar ucapan tentang saudaranya kemudian ditambah-tambah olehnya dan disebarkannya dengan sesuatu yang lebih darinya”.

Dan bahkan pada ketika berbeza pendapat dengan saudaramu yang lain, maka ikatan ukhuwah seharusnya mampu melindungi mereka dari terjadinya saling membuka aib atau menyebarkan syubhat atau membuat cerita bohong dan hendaknya mereka memelihara ungkapan seorang ulama fiqh iaitu Imam Syafi’i semoga Allah merahmatinya: “Orang yang merdeka adalah orang yang mampu melindungi kasih sayang sesaat, dan patuh pada orang yang memanfaatkannya ucapannya”.

Dan disebutkan : Jika terjadi ghibah (umpatan) maka hilanglah ukhuwah. Begitu indah dan lembut ungkapan seorang salaf yang menyampaikan nasihat kepada saudaranya :
“Sampaikanlah kepada saya; saya telah jahat seperti yang engkau katakan Kerana itu, di manakah kasih sayang dalam ukhuwah Atau jika kamu jahat sebagaimana aku jahat. Maka, dimanakah kurniamu dan kasih sayangmu”.
Dan bukanlah bahagian dari akhlak seorang akh muslim ketika ia selalu menceritakan sebab-sebab keaiban pada ketika ia berbeza pendapat dengan saudaranya atau yang lainnya, atau berusaha meremehkan kelebihannya, atau menghina perbuatan dan pemberiannya. 

Al-Faruq, Umar bin Al Khattab memberikan satu nasihat: 
“Janganlah cintamu dijadikan sebagai bebanan, dan jangan jadikan pula marahmu sebagai kehancuran. Kemudian ada yang bertanya: apakah maksudnya? Umar berkata: “Jika kamu mencintai, jangan berlebihan seperti cintanya seorang bayi pada sesuatu secara berlebihan, dan jika kamu marah maka jangan membuatkan kamu senang dengan hancurnya saudara kamu dan celaka”. (HR Bukhari dalam kitab Al Adab).
Hasan bin Ali berkata: 
“Janganlah kamu berlebihan dalam mencintai sesuatu, dan jangan pula berlebihan dalam membenci sesuatu, dan barangsiapa yang menemukan pada saudaranya tanpa (penutup) maka janganlah disingkap lagi”. 
Dan di antara hak-hak ukhuwah adalah memberikan nasihat dengan adab-adab syar’i:
  1. Jangan diceritakan di depan umum.
  2. Jangan disakiti dihadapan khalayak ramai dan pada suatu institusi.
  3. Jangan diungkap rahasia dirinya.
  4. Jangan dibuat-buat cerita yang dusta.
  5. Tidak dibenarkan penggunaan segala cara terhadap suatu kesalahan.
  6. Tidak ada “mujamalah” dalam menghitung suatu kebenaran.
  7. Tidak cenderung kepada sakit hati dan kemenangan kepada hawa nafsu.
  8. Harus dengan nasihat yang aman dan benar serta jujur.
  9. Bebas dari tuduhan.
  10. Ditunaikan sesuai dengan amanah.
  11. Diiringi dengan kasih sayang.
  12. Mampu menumbuhkan perasaan ukhuwah.
Ukhuwah Adalah Rahasia Kekuatan Dakwah
Sesungguhnya ukhuwah yang kami sebutkan hak-haknya, wahai saudaraku adalah sebuah batu yang mampu menghancurkan gelombang konspirasi dan usaha menguasai dakwah kita yang penuh berkah ini dan ia merupakan titik awal sebuah kemenangan. “Dan jika mereka bermaksud menipumu. Maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu) . Dialah yang memperkuatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu’min yang mengikutimu”.(QS.Al-Anfaal : 62-64)

Nabi saw telah memberitahu kita dengan jelas dan terang:
“Jauhilah kamu akan buruk sangka, kerana buruk sangka adalah sedusta-dusta ucapan, dan janganlah kamu saling menduga-duga, jangan saling mengintai, jangan saling hasad, jangan saling berkonspirasi, jangan saling benci (marah), namun jadilah kamu hamba Allah yang saling bersaudara”. (Muttafaq alaih).
Umat Islam di zaman awal memahami dari Islam akan makna ukhuwah ini, meresap ke dalam aqidah dan agama Allah secara kekal akan perasaan cinta dan bersatu serta berkasih sayang dan fenomena yang paling mulia adalah ukhuwah dan ta’aruf sehingga seakan-akan mereka menjadi peribadi yang satu, satu hati, satu tangan, maka Allah pun mewujudkan pada mereka kemenangan, kemuliaan dan kejayaan.

Oleh kerana itu, marilah kita berpegang teguh pada ukhuwah yang kekal ini yang niscaya tidak akan hilang sekalipun dunia akan hancur, sekalipun hari-hari akan hilang dan berlalu namun ukhuwah akan tetap kekal sepanjang masa dan hendaklah kita terus memelihara dan bercita-cita untuk menunaikan hak-hak ukhuwah ini, merasakan nilai-nilainya, menjaga wirid Rabithah setiap hari.

BERSIHKAN HATI
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali orang merasa dirinya tiada dosa. Padahal, sekecil apapun, dosa-dosa itu tetap saja mengotori. Hati kita sangat peka terhadap kotoran. Walau kita merasa tidak mengotorinya, pasti ada saja noda masuk dan menutupinya. Tadinya bisa jelas melihat kebaikan dan keburukan, lalu menjadi kabur karena tertutupi syahwat dan kepentingan pribadi.

Dalam sebuah perjalanan melewati padang pasir yang gersang, Rasulullah SAW bersama para sahabat berhenti sejenak. “Cari dan kumpulkan ranting-ranting kayu” kata Rasulullah. Para sahabat heran, bagaimana mengumpulkan ranting kayu di tengah padang pasir? “Kalau mencari ranting kayu di sini, tentu tidak ada, ya Rasul?” sahut para sahabat. “Cari dan kumpulkan ranting kayu!” Rasulullah mengulang perintahnya. “Bagaimana akan kita kumpulkan ranting di padang pasir ini? Padahal pohonnya saja tak tumbuh di sini?” “Carilah dan kumpulkan ranting kayu” kata Rasulullah sekali lagi. Para sahabat pun akhirnya mengais-ngais pasir ke sana kemari. Ada satu dua ranting ditemukan dan dikumpulkan. Tak disangka, setelah beberapa lama, ternyata ranting kayu yang terkumpul jumlahnya cukup banyak. “Wahai sahabat, berkumpullah kemari!” Rasulullah memanggil. Para sahabat pun menyambutnya dan mendengarkan pesan yang akan disampaikan beliau dengan penuh perhatian. “Seperti inilah dosa-dosamu setiap hari. Sepertinya terlihat tidak ada, padahal kelak di hadapan Allah SWT ternyata terkumpul banyak.” Para sahabat terhenyak. Kini mereka sadar dan paham dengan maksud Rasulullah. Kita harus selalu membersihkan hati setiap hari. Pembersih hati itu antara lain dengan istighfar, mohon ampun kepada Allah SWT. Dengan hati yang bersih, pikiran pun jernih. Beramal kebaikan menjadi ringan dan bertolong-menolong pun kian mudah dilakukan. Semoga ampunan Allah kita dapatkan.

BERSIHKAN HATI UNTUK MEMBANGUN UMAT
Kalau ada diantara kita yang ditanya: berapa kali kamu membersihkan hatimu dalam sehari?, pasti dia akan merasa heran dan kaget dengan pertanyaan ini. Dia akan tertegun sejenak dan tidak tahu harus menjawab dengan apa !!. Tapi kalau ditanya : berapa kali kamu mandi dalam sehari?, maka dia akan segera menjawab tanpa berfikir panjang lagi, karena mandi dan memberisihkan anggota badan yang di luar adalah suatu hal yang biasa dalam hidup kita, tetapi membersihkan hati dari kotorannya adalah suatu hal yang masih jarang kita jumpai.

Kita bisa saja sangat perhatian dengan kebersihan badan kita, tetapi kita tidak terlalu memperhatikan wudhu’ kita !!. Apa kita bisa menyadari kenapa itu bisa terjadi ?. Ini disebabkan karena kita kurang memperhatikan kesucian bathin kita, hati yang ada di dalam badan kita, bagaimana keadaan dan kondisinya sekarang?, apakah hati itu masih hidup atau sudah hancur dan mati? Apakah dia dipenuhi dengan keimanan yang hakiki atau justru dipenuhi dengan berbagai macam penyakit yang merusak dan menghancurkannya?.

Sesungguhnya hati yang bersih, suci dan penuh taqwa adalah hati yang terbebas dari penyakit iri, benci, dendam, riya, hasad dan buruk sangka. Hati yang tidak disibukkan dengan pergolakan jiwa yang dipicu oleh kebencian terhadap teman-temannya hanya karena persoalan-persoalan dunia yang tiada nilainya, yang menyebabkan dia tidak bisa tidur malam untuk menenangkan fikirannya di siang hari, dia senantiasa memikirkan bagaimana caranya bisa membalas dendam.

Dari Abdullah bin ‘Amru dia berkata : Rasulullah pernah ditanya, Siapakah orang yang paling utama ? Beliau menjawab : “orang yang hatinya makhmum (suci), lidahnya jujur. Mereka (para sahabat) berkata : Kami mengerti tentang lidah yang jujur, tapi apakah yang dimaksud dengan hati yang makhmum? Beliau menjawab: yaitu hati yang bertaqwa lagi suci, tidak ada dosanya, tidak zhalim, tidak curang dan tidak hasad ( dengki )”.

Bagaimanakah dengan hati anda? Kalau dia telah mati maka bersahabatlah dengan orang yang hatinya masih hidup. Alangkah jauh bedanya antara orang sudah mati tapi ketika mengingat mereka hati (kita) menjadi hidup, dengan orang yang masih hidup tetapi bergaul dengan mereka hati (kita) menjadi mati.

Luqman pernah menasehati anaknya: wahai anakku, bergaullah dengan para ulama, dekatilah mereka, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah dengan air hujan.

Hati adalah sumber kekuatan di tubuh, dia ibarat kunci kontak (untuk tubuh), kalau seandainya dia bersih maka anggota tubuh yang lain akan berfungsi dengan baik, tapi kalau seandainya dia rusak maka kemampuan menerima dan bekerja pada anggota tubuh yang lain akan kacau dan tidak normal. 

Hati sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:
"merupakan sekumpulan darah yang apabila dia baik maka seluruh anggota badan akan baik, dan apabila dia rusak maka akan rusak juga seluruh anggota tubuh"

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
 “Sesungguhnya di dalam diri anak adam ada segumpal darah, apabila dia baik maka baik pulalah semua anggota badan, dan apabila dia rusak, maka rusaklah semua anggota badan, ketahuilah bahwa dia adalah hati”. 
Sebuah penjelasan yang sangat sempurna (dari Rasulullah), bagaimana tidak, karena beliau sudah diberi jawami’ kalim.

Ada suatu hal penting yang harus mendapat perhatian serius dari kita, yaitu kita sering mendengarkan Al-Qur’an, menghadiri majlis ilmu (halaqah), mendengarkan ceramah agama, membaca buku dan sebagainya, tetapi di mana manfaat semua itu....? Kenapa tidak ada bekasnya ? Kenapa akhlak kita tidak menjadi lebih baik...? Kenapa perilaku kita tidak berubah? Dimana letak kesalahannya? Apa penyebabnya?. Sebabnya tak lain adalah karena kita tidak membiasakan diri dalam pendidikan keimanan, hati kita tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Sesungguhnya hati itu butuh untuk dibersihkan secara terus menerus, perlu disucikan dari berbagai penyakit yang sudah kita sebutkan di atas tadi, sehingga dia bisa berfungsi dengan baik untuk menerima dan memberikan perintah (kepada anggota tubuh yang lain) .

Kelemahan yang kita rasakan, kekalahan, kehinaan kita dalam pandangan lain adalah karena penyakit yang kita derita, sehingga terjadilah perpecahan dalam barisan kita, kesatuan yang terkoyak dan kita saling menyalahkan, padahal seharusnya kita tegas menghadapi musuh, saling membantu diantara sesama kita. Tapi kita justru sebaliknya membalik ayat tersebut, betapa banyak keadaan yang kita putar balikkan, kenapa kita justru berburuk sangka kepada saudara kita...?. Carilah alasan yang baik (terhadap kesalahan saudara kita), kalau kamu tidak mendapatkan alasan yang wajar (masuk akal) maka katakanlah: barang kali dia punya alasan (melakukan itu) yang tidak saya ketahui, atau paling tidak salahkan hatimu sendiri dan katakan : wahai hati, betapa kasarnya perasaanmu ini !!.

Kenapa sebagian kita iri dan dengki kepada yang lain?, bukankah cita-cita kita satu? Bukankah masing-masing kita berjuang disalah satu medan juang Islam? Kamu – wahai saudara – adalah salah satu benteng Islam, maka jangan sampai musuh masuk melewati daerah yang kamu jaga, kalau seandainya kamu tergelincir (dalam menjaga Islam) maka akupun akan ikut tergelincir dan semua kita akan tergelincir, karena kita semua bergandengan tangan dalam satu barisan untuk memperjuangkan sebuah bangunan, kalau ada salah seorang diantara kita terjatuh, maka semua (bertanggung jawab) membangunkannya dan menutupi kelemahannya untuk menjaga keutuhan bangunan dari keruntuhan yang akan datang saling menyusul. Kalau ada diantara kita yang tergelincir maka kita sama-sama menolongnya untuk bangun lagi, jangan sampai kita justru menjadi penolong syaitan dalam hal ini.

Demi kemashlahatan kita bersama maka kita harus saling membantu sehingga kita tetap kuat, cita-cita tetap terjaga dan terus berkembang dengan baik. Suatu hari Umar bin Khattab Radiyallahu 'anhu bertanya tentang orang lain yang dikenalnya, maka dikatakan kepadanya: orang tersebut sedang di luar Madinah meminum minuman keras, maka Umar menulis surat kepadanya yang isinya: Sungguh segala puji bagi Allah, tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Dia maha Pengampun segala dosa, Penerima taubat dan sangat keras hukuman-Nya. Maka laki-laki itu senantiasa mengulang-ngulangi membaca surat Umar tersebut dan dia menangis... sampai akhirnya dia pun taubat. Tatkala beritanya sampai kepada Umar, dia pun berkata: Itulah seharusnya yang kalian lakukan, kalau ada saudara kalian yang tergelincir maka luruskan dan bantulah dia serta berdoalah semoga Allah mengampuninya dan menerima taubatnya, janganlah kalian menjadi pembantu syetan dalam hal ini.
Permasalahan yang kita hadapi sangat riskan dan sulit, maka kita harus menghidupkan hati kita masing-masing, memperbaiki hubungan diantara kita untuk kembali menyatukan barisan menuju kebangkitan ummat kembali.

HATI BERSIH KUNCI SUKSES
Puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah bisa berjumpanya dengan Allah. Ingatlah: 
"(yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun saliim (hati yang bersih)." (QS Asy Syu'araa' [26]: 88-89). 

Firman-Nya, 
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS Asy Syams [91]: 7-9).

Karenanya pembahasan dalam 7B (kiat meraih sukses) yang meliputi beribadah dengan benar, berakhlak baik, belajar tiada henti, bekerja keras dengan cerdas, bersahaja dalam hidup, dan bantu sesama. Semuanya ini baru akan diterima oleh Allah sebagai amal bila dilakukan dengan ikhlas, buah dari hati yang selalu bersih.

Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati agar sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar tetap tertolak jika tak ikhlas.

Hati bisa kotor baik saat sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal. Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang sering salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu. Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban, jika tak menunaikan berarti berdosa.

Kotor hati setelah beramal:
  1. Menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Maha tahu niat dibalik setiap cerita, apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah haji. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru lebih buruk dari orang yang belum beribadah haji.
  2. Takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allahlah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya.
  3. Ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain. Misalnya, kita rajin membaca Alquran, shaum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Alquran, shaum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling shalih. Padahal hanya Allah Yang Mahatahu siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.
Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insya Allah karena kemuliaan pribadi kita, tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima-Nya dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.
Poskan Komentar